SEKOLAH RENDAH ISLAM DARUL THULAB (PENDIDIKAN AGAMA DAN TAHFIZ AL QURAN)

SEKOLAH RENDAH ISLAM DARUL THULAB (PENDIDIKAN AGAMA DAN TAHFIZ AL QURAN)
SEKOLAH RENDAH ISLAM DARUL THULAB (PENDIDIKAN AGAMA DAN TAHFIZ AL QURAN)

BERSAMA KITA MELAHIRKAN GENERASI BERILMU DAN BERAMAL DAN BERAKHLAK

خيركم من تعلم القران وعلمه

SEBAIK-BAIK KAMU IALAH ORANG YANG BELAJAR AL-QURAN DAN MENGAJARKANNYA



Monday, September 24, 2012

Amalan Tanpa Ilmu Laksana Fatamorgana


Amalan Tanpa Ilmu Laksana Fatamorgana

Allah l berfirman,
“Orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (an-Nur: 39—40)
Allah l menyebutkan dua permisalan untuk orang-orang kafir, permisalan fatamorgana dan permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ini karena orang-orang yang berpaling dari petunjuk dan kebenaran itu ada dua macam. Salah satunya adalah seseorang yang mengira bahwa dirinya di atas suatu kebenaran, lalu menjadi jelas baginya saat terbukti hakikatnya berbeda dengan apa yang dia kira. Inilah kondisi orang-orang yang bodoh dan kondisi para pengikut bid’ah. Mereka mengira bahwa mereka berada di atas petunjuk dan ilmu. Ketika hakikatnya tersingkap, menjadi jelas bagi mereka bahwa ternyata mereka tidak berada di atas petunjuk. Mereka juga tahu, keyakinan dan amal mereka yang berasal dari ilmu mereka, hanya fatamorgana yang berada di tanah datar, yang terlihat oleh mata yang memandangnya sebagai air padahal tiada nyatanya.
Demikian pula amalan-amalan yang bukan karena Allah l dan tidak berlandaskan perintah-Nya. Si pelaku menyangkanya bermanfaat baginya, padahal tidak demikian. Amalan inilah yang dikatakan oleh Allah l,
“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)
Coba perhatikan, bagaimana Allah l menjadikan fatamorgana itu di atas tanah yang datar lagi kosong, tidak ada bangunan, pepohonan, dan tumbuhan. Di situlah tempat terjadinya fatamorgana: tanah yang kosong, tidak ada sesuatu. Memang, fatamorgana itu sesuatu yang tidak ada nyatanya. Permisalan ini sesuai dengan amalan dan kalbu mereka yang kosong dari iman dan hidayah.
Perhatikanlah firman-Nya,
“Orang yang dahaga menyangkanya air….”
Artinya, ketika orang yang sangat dahaga melihat fatamorgana, mengiranya sebagai air sehingga ia mengejarnya. Tetapi, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa. Fatamorgana itu menipunya di saat ia sangat membutuhkan air. Demikian juga keadaan mereka. Ketika amal mereka bukan karena taat kepada Rasul n dan bukan karena Allah l, amal mereka dijadikan laksana fatamorgana. Amalan itu akan ditampakkan kepada mereka saat mereka sangat kehausan dan sangat membutuhkannya, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka justru mendapati Allah l yang akan membalasi amal mereka dan akan memenuhi hisab mereka.
Dalam sebuah hadits tentang hari kiamat dalam kitab ash-Shahih, dari hadits sahabat Abu Sa’id al-Khudri z, dari Nabi n,
“Lalu didatangkan Jahannam dan ditampakkan laksana fatamorgana. Dikatakan kepada Yahudi, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka mengatakan ‘Kami dahulu menyembah Uzair, putra Allah.’ Lantas dikatakan kepada mereka, ‘Kalian berdusta. Allah tidak memiliki istri dan anak, lantas apa yang kalian maukan sekarang?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau beri kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan di Jahannam. Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah al-Masih, putra Allah.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Kalian dusta. Allah l tidak memiliki istri atau anak, lantas apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau memberi kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan….”
Inilah kondisi setiap pelaku kebatilan. “Kebaikan” mereka akan mengkhianati mereka saat mereka sangat membutuhkannya, karena kebatilan itu tidak ada nyatanya. Sama dengan namanya, batil (yang dalam bahasa Arab berarti ‘sesuatu yang akan lenyap’), jika sebuah keyakinan tidak sesuai dengan (tuntunan) dan tidak benar, yang terkait dengannya juga batil.
Demikian pula jika tujuan sebuah amalan itu batil, seperti beramal karena selain Allah l atau tidak di atas perintah-Nya, amalnya batil dengan sebab kebatilan tujuannya. Pelakunya akan merasa celaka karena sia-sianya amal tersebut. Ia justru akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia angan-angankan… Ia tersiksa dengan lenyapnya manfaat amalannya dan perolehan yang sebaliknya. Oleh karena itu, Allah l berfirman,
“Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur: 39)
Inilah permisalan seseorang yang dia mengira dirinya berada di atas petunjuk.
Macam yang kedua, adalah pemilik permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan petunjuk, namun lebih mengutamakan kegelapan kebatilan dan kesesatan daripada kebenaran tersebut. Akhirnya, menumpuklah kegelapan tabiatnya, kegelapan jiwanya, kegelapan kebodohannya, dan kegelapan kesesatan serta hawa nafsu, yang mereka tidak mengamalkan ilmu mereka sehingga mereka menjadi bodoh.
Keadaan mereka laksana seseorang yang berada di lautan yang dalam lagi tidak bertepi, sementara itu ombak meliputinya. Di atas ombak itu ada ombak lagi. Di atasnya lagi ada awan yang gelap. Jadilah ia berada di kegelapan lautan, kegelapan ombak, dan kegelapan awan. Ini seperti kegelapan yang ia berada padanya. Kegelapan yang Allah l tidak mengeluarkannya darinya menuju cahaya iman.
Dua permisalan ini, permisalan fatamorgana yang dia kira sumber kehidupan, yaitu air, dan permisalan kegelapan-kegelapan yang berlawanan dengan cahaya, mirip dengan permisalan orang-orang munafik dan orang-orang mukmin, yaitu permisalan air dan api. Allah l menjadikan bagian bagi mukminin dari keduanya adalah kehidupan dan cahayanya, sedangkan bagian untuk munafik adalah kegelapan yang merupakan lawan dari cahaya dan kematian yang merupakan lawan dari kehidupan.
Demikian juga orang-orang kafir dalam dua permisalan ini. Bagian mereka hanyalah fatamorgana yang menipu orang yang melihatnya—sesuatu yang tidak ada kenyataannya—dan bagian mereka adalah kegelapan-kegelapan yang berlapis-lapis.
Bisa jadi, maksud ayat ini adalah keadaan salah satu dari kelompok-kelompok orang kafir. Mereka kehilangan sumber kehidupan dan cahaya karena mereka berpaling dari wahyu. Oleh karena itu, dua permisalan ini adalah untuk satu golongan.
Namun, bisa jadi pula, maksudnya adalah macam-macam keadaan orang kafir. Permisalan pertama adalah mereka yang beramal tanpa ilmu, hanya dengan kebodohan dan baik sangka terhadap para pendahulu (nenek moyangnya). Mereka mengira telah berbuat baik. Adapun permisalan kedua adalah bagi yang lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk dan mendahulukan yang batil daripada yang haq. Mereka buta padahal sebelumnya melihatnya. Mereka pun mengingkari padahal sebelumnya mengetahui. Inilah keadaan orang-orang yang dimurkai. Adapun yang pertama adalah keadaan orang-orang yang sesat.

 





بسم الله الرحمن الر حيم


Kepada Dato’Datin,Tuan Puan,Muslimin  dan Muslimat kami sangat mengalualukan bantuan  bagi membantu usaha yang murni ini bagi membiyayai kos pengurusan Sek.Ren.Islam Darul Thulab yang  menyediakan   kelas Agama dan aktiviti kemasyaraatan dan aktiviti seperti tersebut di atas untuk masyarakat sekitanya khususnya yang kurang berkemampuan, kami sangat mengalu-alukan YAB Dato’Sri untuk memberi pandangan atau buah fikiran untuk kebaikan dan kemajuan Sek.Ren.Islam Darul Thulab untuk masa-masa akan datang,tanpa bantuan Dato’Datin,Tuan Puan,Muslimin  dan Muslimat kami yakin Sekolah ini pada masa akan datang tidak akan terkubur bersama terkuburnya ahli jemaah yang gigih mempertahankan selama ini,kerana tidak mampu membayar sewa bangunan dan lain-lain lagi sekiranya mendapat bantuan dari Darto’Datin,Tuan Puan,Muslimin  dan Muslimat,terima kasih diatas bantuannya Semoga di murahkan Rizki amin .


Bantuan boleh melalui cek berpalang diatas nama “ SEKOLAH AGAMA DARUL THULAB”.atau masukkan terus ke maybank no akaun 564221210758,

atau atas nama PIBG SEK.AGAMA DARUL THULAB”. atau masukkan terus ke AM ISLAMIC BANK BERHAD no akaun 458-088-0202-0002014282.
 
ATAU HUBUNGI TALIAN 012 6172673 (AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB)
/013 2120873( USTAZAH ROSIDAH SENONG)

Thursday, September 20, 2012

Rasulullah Teladan Terbaik

Rasulullah Teladan Terbaik

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya."
altNamun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW. mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun, Rasulullah SAW. menyuapkan makanan kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahawa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW.. Rasulullah SAW. melakukan hal ini setiap hari sampai baginda wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW., tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW. yakni Abu Bakar RA. berkunjung ke rumah anaknya, Aisyah RA. yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW. dan beliau bertanya kepada anaknya itu, "Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?"
Aisyah RA. menjawab, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja."
"Apakah Itu?" tanya Abu Bakar RA..
"Setiap pagi Rasulullah SAW. selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana," kata Aisyah RA..
Keesokan harinya Abu Bakar RA. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar RA. mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar RA. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil menghardik, "Siapakah kamu?"
Abu Bakar RA. menjawab, "Aku orang yang biasa (mendatangi engkau)."
"Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," bantah si pengemis buta itu.
"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku," pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar RA. tidak dapat menahan air matanya, dia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.."
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abu Bakar RA., dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, dia tidak pernah memarahiku sedikitpun, dia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, dia begitu mulia...."
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar RA. saat itu juga dan sejak hari itu dia menjadi Muslim.

Siapakah Suri Teladan Terbaik Selain Rasulullah?

Rasulullah merupakan ciptaan terbaik ALLAH yang dikurniakan kepada umat manusia untuk mendidik mereka tentang erti dan cara kehidupan yang berpaksikan keredhaan ALLAH.
Setiap perintah dan larangan ALLAH disampaikan kepada umat manusia dengan asbab Baginda Rasulullah. Setiap perintah  yang memerlukan praktikalnya (ibadah), diajarkan ALLAH kepada umat manusia melalui asbab baginda Rasulullah. Setiap peraturan dan syari'at yang ditetapkan ALLAH disampaikan oleh baginda Rasulullah.
Akhlak bagi menjalani kehidupan dengan sisipan redha ALLAH, diteladani oleh baginda Rasulullah dalam kehidupan seharian baginda. Jika begitulah kesempurnaan yang ALLAH kurniakan kepada baginda Rasulullah sebagai seorang guru dan suri tauladan, patutkah kita sebagai umat baginda mencari selain baginda sebagai ikutan?

Wajibkah Menuruti Sunnah?

"Katakanlah (Muhammad); Jika benar engkau cintakan ALLAH, ikutlah aku, nescaya ALLAH akan mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Sungguh, ALLAH maha pengampun lagi maha pengasih."
Bukti kecintaan kita kepada ALLAH, tujuan kita diadili oleh al-Quran melalui keta'atan kita dalam menuruti sunnah baginda Rasulullah.
Jadi, masih perlukah kita bertanya tentang keperluan menuruti sunnah baginda?  Bahawasanya, hanya sunnah baginda Rasulullah yang dapat menjamin kebahagian dan kejayaan umat manusia dalam kehidupan dunia mahupun akhirat.والله اعلم

Tuesday, September 11, 2012

Tips Persediaan Menghadapi Peperiksaan UPSR , PMR , SPM dan STPM



Tips Persediaan Menghadapi Peperiksaan UPSR , PMR , SPM dan STPM

Di sini terdapat ?7 Tips Persediaan Menghadapi Peperiksaan UPSR , PMR , SPM dan STPM untuk cemerlang dan sebagai persediaan menghadapi peperiksaan khususnya bagi pelajar-pelajar yang akan mengambil Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) tidak lama lagi.
Bagi pelajar peringkat menengah yang bakal menduduki peperiksaan PMR, SPM dan STPM juga boleh menggunakan tip ini sebagai panduan pembelajaran dan persediaan anda.
1. Semak jadual
Menyemak jadual peperiksaan penting bagi menentukan masa cukup untuk belajar, khususnya pada saat-saat akhir ini. Latihan mesti diteruskan mengikut kertas peperiksaan yang akhir diduduki terlebih dulu. Ini kerana apabila tiba hari peperiksaan, calon akan belajar subjek yang akan diuji pada hari pertama peperiksaan.
Jika melakukan demikian, bermakna anda telah membuat persiapan yang menyeluruh dan tidak ada subjek tertinggal atau tidak dipelajari.
2. Kunci peperiksaan
Apakah kunci kepada peperiksaan? Peperiksaan menuntut calon membuat banyak latihan dan ulang kaji bagi mengingati pelajaran lalu, selain mengelak diri daripada lupa fakta ketika menjawab soalan.
Oleh itu, anda jangan jemu untuk terus membuat ulang kaji, terutama menggunakan kertas peperiksaan tahun terdahulu atau soalan seiras. Langkah itu akan membiasakan anda dengan soalan standard, di samping membolehkan ingatan anda kekal dan berpanjangan.
3. Tentukan keutamaan
Belajar pada saat-saat akhir juga perlu mengutamakan mata pelajaran atau kemahiran yang masih belum atau kurang dikuasai. dalam hal ini, jangan sekali-kali belajar subjek yang anda sukai saja, sebaliknya merangkumi semua.
Ini kerana setiap peperiksaan akan membabitkan semua subjek dipelajari di sekolah, bukannya berdasarkan minat seseorang calon.
4. Banyak mengingat dan membuat kaitan
Mengingat adalah satu perkara penting yang mesti dilakukan calon dalam menghadapi peperiksaan. Pelbagai cara boleh anda digunakan untuk mengingat, antaranya belajar berulang kali mengenai sesuatu kemahiran.
Apa-apa pun cara digunakan, terpulang kepada anda, asalkan ia dapat membantu mengingat dan membuat kaitan apabila diperlukan.
5. Merancang persiapan peperiksaan
Ada tiga perkara yang mesti diamalkan calon bagi menentukan kejayaan cemerlang dalam peperiksaan.
a.
  • Pertama, sebelum peperiksaan khususnya dalam tempoh beberapa minggu ini, kuat dan tingkatkan usaha serta semangat dengan belajar secara berterusan.

Selain di sekolah dan rumah, anda seharusnya mengambil peluang memanfaatkan masa yang ada, tidak kira di mana saja berada dengan membaca nota ringkas yang disediakan sebelum ini. Ini akan membantu anda mengingati semula apa yang telah dipelajari.

Dalam pada itu, kesihatan diri jangan diabaikan. Walaupun bersemangat untuk menduduki peperiksaan, janganlah keterlaluan hingga lupa makan dan minum. Ini kerana keadaan itu boleh menyebabkan anda jatuh sakit.
Tidur hendaklah mencukupi supaya anda sentiasa selesa dan dapat memberi tumpuan terhadap pelajaran sama ada ketika di sekolah mahupun sewaktu belajar sendiri di rumah. Kesihatan tubuh badan yang baik amat perlu, apatah lagi akan menduduki peperiksaan.
Buat seketika, lupakan dulu perkara-perkara lain yang anda minat, sebaliknya manfaat masa yang ada dengan mengulang kaji pelajaran. Ini kerana semua perkara itu boleh dilakukan kemudian berbanding peperiksaan yang kata orang sekali seumur hidup. Jangan lepaskan peluang keemasan itu.
Begitu juga dengan pengambilan makanan, seharusnya ia seimbang. Dalam masa beberapa hari ini juga, anda seharusnya makan makanan yang berzat dan boleh membantu mengembang dan mencergaskan minda anda.
Setelah segala persiapan diri sudah dilakukan, anda perlu pastikan keperluan peperiksaan yang lain tidak dilupakan, antaranya peralatan menulis khususnya pensel 2B, pemadam dan penajam pensel, jika tidak sediakan beberapa batang pensel. Pastikan peralatan ini disediakan lebih awal dan tidak lupa dibawa pada hari peperiksaan.
Sebaiknya tidurlah lebih awal pada malam hari peperiksaan. Langkah itu perlu supaya anda berasa segar dan dapat menghadapi kertas peperiksaan dengan tenang tanpa sebarang masalah.


kakak tahun 1
b.
  • Kedua, pada hari peperiksaan. Bangun dan pergi ke sekolah atau dewan peperiksaan lebih awal, bagaimanapun pastikan anda bersarapan terlebih dulu. Jika anda bangun lewat, bukan saja tidak sempat bersarapan, malah akan tergesa-gesa ke sekolah.

Ingat, perbuatan tergesa-gesa menjanjikan pelbagai masalah, antaranya membuatkan anda panik lalu tidak dapat menumpukan terhadap peperiksaan.

Sebelum itu, jangan lupa bersalaman dengan ibu bapa dan minta mereka mendoakan kita dapat menjawab soalan dengan jayanya.
Ketika berada dalam dewan peperiksaan, anda hendaklah dalam keadaan tenang dan anggaplah peperiksaan itu sebagai perkara biasa. Untuk menenangkan diri jika menggelabah, anda tariklah nafas panjang-panjang. Langkah itu membantu jantung anda mendapat bekalan oksigen yang mencukupi, sekali gus menghilangkan rasa gugup dan bimbang.
Apabila menjawab soalan, sekali lagi anda perlu tenang. Setelah diberi kebenaran oleh pengawas peperiksaan, jawablah soalan yang anda fikir mudah dulu. Jangan guna masa terlalu banyak untuk menjawab soalan sukar itu, sebaliknya terus selesaikan soalan lebih mudah. Soalan susah yang ditinggalkan sementara itu jangan diabaikan, tetapi dibuat kemudian.
Jika menjawab soalan objektif, ketelitian amat perlu. Menentukan pilihan jawapan yang tepat amat penting. Pastikan jawapan yang kita pilih dalam kertas soalan sama dengan huruf pada kertas jawapan. Seandainya tersalah tanda, padamkan betul-betul sehingga hilang tanda hitam pensel
Walaupun sudah yakin jawapan yang diberi, baik bagi soalan objektif mahupun subjektif, semakan sebelum kertas jawapan diserah kepada pengawas peperiksaan adalah perlu dalam memastikan semuanya betul dan sudah dijawab. Oleh itu, peruntukkan sedikit masa untuk tujuan semakan terakhir.
Pembahagian masa yang betul amat perlu ketika menjawab soalan. Gunakan masa yang diperuntukkan dengan berkesan. Jangan sekali-kali alpa atau khayal sewaktu menjawab kerana langkah itu akan merugikan anda.
c.
  • Ketiga, selepas peperiksaan. Setelah menduduki sesuatu kertas peperiksaan, anda tidak digalakkan berbincang dulu dengan rakan atau sesiapa mengenainya. Ini perlu bagi mengelakkan perasaan kecewa jika didapati jawapan anda terpesong atau salah.

Jika ini berlaku, anda mungkin hilang semangat atau fikiran terganggu ketika menjawab kertas soalan berikutnya. Sebaiknya, bincang kertas soalan itu setelah peperiksaan berakhir.



  • Langkah terbaik, beri tumpuan penuh untuk menjawab soalan, bukannya menyemak jawapan.

6. Elakkan terbabit dengan situasi yang boleh mengganggu perasaan

Menjelang peperiksaan, pelbagai dugaan mungkin dihadapi. Oleh itu, anda seharusnya sentiasa bersedia menghadapi apa saja dugaan yang boleh mengganggu perasaan. Selepas menunaikan solat lima waktu, berdoalah supaya Allah SWT tenangkan perasaan dan dapat fokuskan tumpuan terhadap peperiksaan.
7. Berdoa dan bertawakal
Sering kali kita was-was ataupun tidak yakin dengan apa yang dilakukan. Dalam hal peperiksaan, anda tidak seharusnya kurang yakin dengan kemampuan diri jika sudah membuat persiapan rapi sejak awal lagi. Sepatutnya kita berdoa dan tawakal kepada Allah SWT kerana usaha itu adalah senjata terakhir bukan saja untuk membina keyakinan diri, malah mencapai kejayaan.
Itulah di antara tip-tip yang boleh digunakan oleh pelajar sebagai panduan persedian dan meghadapi peperiksaan tidak lama lagi. Di harap dengan panduan tip-tip di atas, pelajar-pelajar akan berkeyakinan dan membuat persiapan yang cukup untuk menghadapi ujian itu nanti.

Thursday, September 6, 2012

Adab Menyambut Hari Raya Aidil Fitri

Adab Menyambut Hari Raya Aidil Fitri


Sebagai hadiah kemenangan orang-orang Islam dalam perjuangan mengengkang hawa nafsu di bulan Ramadhan Allah Subhanahu wa Ta‘ala membalasnya dengan satu hari yang dinamakan ‘Idulfitri atau Hari Raya Fitrah, di mana Allah Subhanahu wa Ta‘ala menghalalkan mereka berbuka puasa dan mengharamkan berpuasa pada hari tersebut.

Dalam keghairahan menyambut Hari Raya yang mulia adalah wajar ianya disambut mengikut lunas- lunas yang digariskan oleh Syara‘ dan tidak dicampurbaurkan dengan perkara-perkara yang dilarang atau yang diharamkan. Hari Raya memang tidak boleh disamakan dengan sambutan perayaan- perayaan yang lain, kerana ianya merupakan kurniaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala khusus kepada hamba- hamba yang beribadat dan berjuang melawan hawa nafsu sepanjang bulan Ramadhan.

Apakah adab-adab dan perkara-perkara sunat yang dilakukan ketika menyambut kedatangan Hari Raya?

Banyak fadilat atau kelebihan yang terdapat pada malam Hari Raya. Oleh sebab itu, di antara adab-adab dan perkara-perkara sunat yang telah digariskan oleh Syara‘ untuk kita melakukannya ialah menghidupkan malam Hari Raya itu dengan melakukan amal-amal ibadat seperti mendirikan sembahyang fardhu secara berjemaah, melakukan sembahyang sunat, bertakbir, memanjatkan doa ke hadrat Ilahi dan melakukan apa- apa jua bentuk perkara yang berkebajikan.

Al-Imam Al-Syafie Rahimahullahu Ta‘ala telah menegaskan bahawa malam Hari Raya itu adalah di antara malam-malam yang mudah diperkenankan doa, sebagaimana beliau berkata di dalam kitabnya Al-Umm: "Telah sampai kepada kami bahawasanya pernah dikatakan, sesungguhnya doa itu sungguh mustajab pada lima malam; malam Jumaat, malam Hari Raya Adha, malam Hari Raya Fitrah, awal malam Rajab dan malam Nisfu Sya‘ban.

Perlu diingat juga, kelebihan menghidupkan malam Hari Raya itu tidak akan diperolehi melainkan dengan mengisi dan menghidupkan sebahagian besar malam tersebut, sebagaimana mengikut pendapat yang shahih.

Kemeriahan Hari Raya lebih dirasai apabila laungan takbir bergema. Namun begitu, tidak bermakna takbir itu semata-mata untuk memeriahkan suasana tetapi lebih dari itu, ianya lebih bersifat untuk melahirkan rasa kesyukuran dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Allah memerintahkan kepada kita mengakui akan kebesaran dan keagunganNya dengan mengucapkan takbir.

Ucapan takbir pada malam Hari Raya itu merupakan ibadah yang kita lakukan untuk melepaskan Ramadhan dan untuk menyambut kedatangan ‘Idulfitri. Oleh sebab itu, disunatkan kepada kita mengucapkan takbir dengan mengangkat suara, bermula waktunya dari terbenam matahari malam Hari Raya sehingga imam mengangkat takbiratul ihram sembahyang Hari Raya. Firman Allah Ta‘ala:

Tafsirnya: "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."
(Surah Al-Baqarah : 185)

Di pagi Hari Raya pula disunatkan mandi kerana Hari Raya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Al-Fakih bin Sa‘d Radhiallahu ‘anhum bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan mandi pada Hari Raya Fitrah dan Hari Raya Adha. Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah.

Di samping itu disunatkan juga memakai pakaian yang sebagus-bagusnya, memakai harum-haruman dan menghilangkan segala bau-bau yang tidak elok. Tidak kira sama ada orang itu hendak keluar pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang Hari Raya ataupun duduk sahaja di rumah, kerana hari tersebut merupakan hari untuk berhias-hias dan berelok-elok. Diriwayatkan daripada Ja‘far bin Muhammad daripada bapanya daripada datuknya:
Maksudnya: "Bahawasanya Shallallahu ‘alaihi wasallam memakai kain yang bergaris-garis (untuk diperselimutkan pada badan) pada setiap kali Hari Raya."
(Hadis riwayat Al-Syafi‘e dan Al-Baghawi)

Sebelum keluar pergi ke masjid untuk menunaikan sembahyang sunat Hari Raya Fitrah disunatkan makan dan minum terlebih dahulu kerana mengikut apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
Maksudnya: "Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar pada waktu pagi Hari Raya Fitrah sehingga Baginda makan (terlebih dahulu) beberapa biji tamar dan Baginda memakannya dalam bilangan ganjil."
(Hadis riwayat Al-Bukhari dan Ahmad)

Selain itu, Hari Raya merupakan hari kemenangan dan kegembiraan, maka sebab itu disunatkan bagi sesama muslim saling mengucapkan tahniah antara satu sama lain dengan mengucapkan: Taqaballahuminna wa minkum 
Ertinya: "Semoga Allah menerima daripada kita dan menerimaNya daripada awak."
Daripada Jubair bin Nufair, di mana beliau merupakan salah seorang Tabi‘en (orang-orang yang datang setelah Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah berkata (maksudnya): "Sahabat- sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mereka berjumpa di Hari Raya, setengahnya mengucapkan kepada setengah yang lain:
Ertinya: "Semoga Allah menerima daripada kami dan menerimaNya daripada awak."
Menurut pandangan jumhur ulama bahawa mengucapkan tahniah di Hari Raya merupakan sesuatu perkara yang disyari‘atkan di dalam Islam.
Al-Imam Al-Qalyubi menaqalkan daripada Al-Imam Ibnu Hajar bahawa memberi atau mengucapkan tahniah pada hari-hari raya, bulan-bulan dan tahun- tahun (kerana ketibaannya) merupakan perkara yang disunatkan. Al-Imam Al-Baijuri mengatakan: Inilah yang yang dii‘timadkan.(Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah, Juz 14, m.s. 100)

Manakala itu pula, amalan saling ziarah menziarahi rumah terutama sekali saudara mara terdekat dan sahabat handai merupakan suatu tradisi yang sentiasa diamalkan ketika menyambut Hari Raya. Amalan ini juga sebenarnya termasuk di dalam perkara yang digemari dan disyariatkan di dalam Islam.
Dalil yang menunjukkan pensyariatannya sebagaimana yang diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha, beliau berkata:
Maksudnya: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk kepadaku, dan di sisiku ada dua orang anak perempuan yang menyanyi dengan nyanyian Bu‘ats. Lalu Baginda baring di atas hamparan dan memalingkan mukanya, dan kemudian Abu Bakar masuk, lalu mengherdikku dengan berkata: "Seruling syaitan di sisi (di tempat) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam!" Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kepada Abu Bakar lalu berkata: "Biarkan mereka berdua itu." Melalui riwayat Hisyam Baginda menambah: "Wahai Abu Bakar, masing-masing kaum ada hari rayanya, dan hari ini adalah Hari Raya kita."
(Hadits riwayat Al-Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menerangkan di dalam kitabnya Fath Al-Baari bahawa kedatangan atau masuknya Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu ke dalam rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan seolah-olah Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu datang sebagai pengunjung atau penziarah selepas masuknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam rumah Baginda.
(Al-Fath Al-Baari, Juz 3, m.s. 116 & Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah, Juz 31, m.s. 117)

Sehubungan dengan perkara ziarah menziarahi ini, adalah ditekankan kepada orang yang pergi berziarah supaya sentiasa komited terhadap etika ziarah yang ditetapkan oleh Islam. Umpamanya hendaklah meminta izin atau memberi salam sebelum masuk, tidak menghadapkan muka langsung ke arah pintu, menjaga adab kesopanan ketika berada di dalam rumah orang yang diziarahi, memilih waktu yang sesuai untuk berziarah dan sebagainya.

Dalam keghairahan menyambut Hari Raya, perlu diingat jangan sekali-kali sampai lupa kewajipan kita kepada Allah Ta‘ala iaitu mendirikan sembahyang fardhu, dan kerana terlalu seronok jangan pula adanya berlaku perlanggaran batasan-batasan agama.

Apa yang di harapkan daripada sambutan Hari Raya sebenarnya bukannya semata-mata kegembiraan atau keseronokan tetapi yang lebih penting dan lebih utama lagi ialah mendapatkan keberkatan dan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Semoga kita semuanya mendapat keberkatan dan keredhaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala kerana menghidupkan, membesarkan dan mengagungkan Hari Raya Idulfitri.
 

PERBINCANGAN MENGENAI SAMBUTAN HARI IBU

PERBINCANGAN MENGENAI SAMBUTAN HARI IBU



Apabila kita membicarakan tentang sambutan atau perayaan maka akan timbul beberapa perkara yang perlu kita ambil berat dan titik beratkan, tujuannya adalah untuk memastikan perkara tersebut menepati segala tuntutan yang telah ditetapkan oleh syara'.

Setiap sambutan atau perayaan matlamatnya adalah untuk melahirkan rasa kegembiraan disebabkan sesuatu peristiwa atau kerana seseorang individu. Maka tidak menjadi perbahasan dari sudut kebenaran untuk melaksanakannya jika ia adalah satu syariat yang jelas diturunkan oleh Allah SWT sebagai satu perintah agar manusia melaksanakannya seperti sambutan Hari Raya dan sebagainya. Namun disana ada juga beberapa sambutan yang disambut pada masa kini,dan ia tidak disebut secara jelas di dalam Al-quran ataupun hadis-hadis Nabi SAW serta tidak berlaku di zaman baginda SAW. Antaranya ialah sambutan HARI IBU yang telah menjadi amalan tradisi masyarakat dunia hari ini menyambutnya dengan pelbagai cara dan bentuk.

Untuk menghasilkan satu perbahasan yang matang, maka perlu mengkaji beberapa perkara yang menjadi faktor penting berkaitan dengan sambutan tersebut, antaranya tarikh, peristiwa dan juga individu yang menyebabkan wujudnya sambutan Hari Ibu tersebut.

Tarikh

Tarikh sambutan Hari Ibu di setiap negara adalah berlainan mengikut tahun kerana ia akan berubah mengikut hari yang kebiasaan digunakan untuk menyambutnya iaitu hari 'ahad' sepanjang bulan Mei. Di Malaysia, sambutan Hari Ibu disambut pada hari Ahad dalam minggu ke-2 dalam bulan Mei. Namun ada juga bebarapa negara yang tidak menyambutnya di dalam bulan Mei tetapi di dalam bulan-bulan yang lain seperti Mac, Ogos dan Disember. 

Maka perkaitan ini dapat  dilihat pada hukum yang telah termaktub di dalam kitab-kitab Fiqh Syafie berkenaan puasa sunat pada hari hari Sabtu atau Ahad. Para ulama' As-Syafieyyah telah menetapkan hukum makruh jika 'menunggalkan' puasa sunat pada hari tersebut dan mengkhususkan hari-hari tertentu kecuali puasa yang telah disyariatkan samada fardhu atau sunat. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadis, yang diriwayatkan oleh Imam At-Tarmizi dan Al-Hakim :

لا تَصُومُوا ىَوْمَ السَبْت إلاَّ فيما افْتُرِضُ عليكم

Maksudnya: jangan kamu berpuasa pada hari Sabtu melainkan pada puasa yang telah difardhukan keatas kamu.

Ulama' menghukumnya makruh kerana Yahudi membesarkan hari Sabtu dan Nasrani membesarkan hari Ahad. Maka terkeluarlah maksud 'tunggal' jika menggabungkan keduanya iaitu berpuasa pada hari Sabtu dan Ahad sekali atau sabtu digabungkan dengan hari sebelumnya iaitu Jumaat. Bersumberkan kepada sebuah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasai RH:

إنَّهُما يوما عِيدُ للمشركين وَأُحِبَّ أن أُخالِفُهم

Maksudnya: sesungguhnya dua hari itu (sabtu dan ahad) perayaan bagi orang musyrik dan aku lebih suka bahawa aku menyalahi akan mereka.

Maka berdasarkan kepada sambutan Hari Ibu ini, secara jelasnya ia terdapat tuntutan yang disyariatkan di dalam Islam iaitu memuliakan ibu serta berbuat baik kepadanya. Namun begitu, jika hanya ia membawa kepada mengkhususkan hari tersebut sahaja dalam memuliakan ibu, tanpa hari-hari yang lain, maka ia adalah makruh. Hal ini demikian kerana mengkhususkan sesuatu ibadah sedangkan memuliakan ibu adalah setiap masa tanpa ada waktu yang dikhususkan.

Peristiwa

Terdapat banyak catatan berkaitan dengan kewujudan sambutan Hari Ibu ini, sama ada ia merupakan satu upacara keagamaan atau hanya satu amalan tradisi sebuah masyarakat untuk menunjukkan kasih sayang kepada ibu-ibu mereka.
Bahkan sambutan yang dilakukan oleh setiap negara juga, asal usul tujuannya adalah berbeza mengikut kepercayaan sesuatu tempat tersebut.
Antaranya ialah adat pemujaan ibu di Yunani Purba, yang menyambut satu perayaan untuk Cybele, ibu dewa-dewi Yunani yang agung. Perayaan ini diadakan sekitar equinoks musim bunga di Asia Kecil dan tidak lama kemudian di Rom dari 15 hingga 18 Mac.
Orang Rom Purba juga menyambut sebuah perayaan bernama Matronalia yang memperingati dewi Juno, dan ibu lazimnya diberi hadiah pada hari ini.

Namun begitu, realiti semasa ialah sambutan Hari Ibu di pelbagai negara adalah mengikut kepada kepercayaan sesuatu tempat tersebut samada ia memasukkan unsur kepercayaan atau sekadar menghidupkan satu tarikh bagi mengenang jasa ibu.

Maka apa sekiranya sambutan yang dilakukan adalah terikat atau terikut dengan unsur kepercayaan orang kafir iaitu istilah ‘ibu’ tersebut merujuk kepada sesuatu yang diperbesarkan atau dipersembahkan maka hukumnya jelas adalah haram bahkan membawa kepada kufur.

Ibnu Umar RA meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

“Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum tersebut maka dia adalah daripada kalangan mereka.” - diriwayatkan oleh Imam Abu Daud R.H dalam sunannya, Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam musnadnya Dan Imam as-Suyuti di dalam al-Jamie’ as-Shaghir

Ulama menyebutkan bahawa larangan dalam menyerupai orang kafir adalah dari konteks kepercayaan dan keagamaan. Maka sekiranya ia bukan dari sudut keagamaan atau kepercayaan, hanya sekadar urusan dunia semata maka ia tidaklah termasuk dalam hadis di atas. Sebagaimana pemakaian kot, walaupun ia dipopularkan oleh orang barat namun pemakaian tersebut tidak melibatkan kepercayaan atau keagamaan berbeza dengan pemakaian yang khusus bagi sesebuah sambutan keagamaan.

Justeru, dalam sambutan Hari Ibu adalah merujuk kepada niat sambutan yang dilakukan. Sekiranya sambutan yang dilakukan adalah bagi meraikan ibu tanpa mempunyai makna di sebalik ‘ibu’ tersebut ia sememang suatu kemestian. Bahkan Islam sendiri telah meletakkan nilai yang mulia kepada wanita yang bernama ibu.


Apa yang pastinya ialah sambutan Hari Ibu pada hari ini ialah satu sambutan yang telah dipopularkan oleh barat kepada dunia untuk diamalkan pada hari-hari dan tarikh-tarikh yang tertentu, tanpa wujud sebarang nilai-nilai keagamaan sesebuah agama.

Dr. Yusuf al-Qaradhawi pernah berkata:

 “Hari ibu ini timbul kerana pihak orentalis/doktrin barat memikirkan bahawa inilah cara yang terbaik untuk mereka menarik minat anak-anak remaja barat agar menghormati orang tua mereka. Umumnya kita tahu bahawa masyarakat barat amat tipis dengan adab tatasusila, jadi dengan mengadakan/mengkhususkan hari-hari tertentu sekaligus dapat memupuk remaja mereka agar menyayangi dan menghormati orang tua mereka.”

Oleh yang demikian, nilaian syara' terhadap perkara ini adalah satu perkara yang membawa nilai-nilai yang baik iaitu mengasihi ibu dan mengeratkan ikatan di antara ibu dan anak. Ia adalah sebahagian dari cara untuk menzahirkan kemuliaan kepada ibu dengan mengadakan sambutan kepadanya, menghargai kebaikannya dan berbuat baik kepadanya. Tiada sebarang dalil syara' yang menghalang  anak dari menghargai dan berbuat baik kepada ibunya selagi mana masih di dalam had batasan yang dibenarkan didalam Islam, dan perayaan atau sambutan ia tidak termasuk didalam perkara yang bid'ah kerana sabda Nabi SAW :
مَن أَحْدَثَ في أَمْرِنا هذا ما لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Maksudnya: “Barangsiapa yang mereka-reka satu urusan agama, ia tidak daripadanya maka ia tertolak” - (hadis riwayat Imam Bukhari, Muslim dan Imam Ahmad didalam musnadnya)

Difahami daripada hadis ini jika ia daripada urusan agama maka ia diterima. Sesungguhnya sambutan bagi sesuatu perkara adalah satu yang dibenarkan oleh Nabi SAW. Iaitu dengan bergembira dan menunjukkan rasa gembira kepada orang lain.

Dan penjelasan berkenaan bid’ah, boleh rujuk kepada artikel yang lepas

Sebagaimana juga sambutan Hari Ibu, walaupun ia tidak pernah wujud di zaman baginda SAW kerana memuliakan ibu merupakan satu kewajipan yang mesti, namun mewujudkan satu tarikh sebagai tanda kebesaran atau menghormati wanita yang bernama ibu bukanlah dikira sebagai bid’ah yang tercela.

Imam Abu Hamid Al-Ghazali menyebut :

“Tidaklah kami katakan bahawa makan dengan menggunakan mangkuk pinggan (peralatan makan pada hari ini) merupakan perkara yang dilarang samada makruh atau haram. Sedangkan tidak terdapat larangan yang jelas. Walaupun menggunakan perlatan (yang terdapat pada hari ini) tersebut merupakan bid’ah (iaitu tidak pernah wujud dan dilakukan di zaman baginda SAW) selepas zaman Nabi SAW. Maka bukanlah semua bid’ah adalah dilarang. Bid’ah yang terlarang adalah yang menyalahi dengan sunnah dan bertentangan dengan suruhan syara’ ” - kitab Laisa Min Al-Islam di mukasurat 121, karangan Syeikh Muhamad Al-Ghazali, cetakan ke-6 tahun 1991, Maktabah Wahbah 

Justeru, memuliakan ibu merupakan suruhan syara’. Mewujudkan satu tarikh yang khusus dalam mengenang jasa ibu merupakan satu inisiatif dalam menyeru manusia terutama golongan remaja yang semakin melupai jasa ibu adalah perkara yang baik di samping memperingatkan bahawa ibu mesti disantuni pada setiap perkara. Mengkhususkan satu hari semata-mata dalam memperingati jasa ibu dengan menafikan hari yang lain adalah makruh. Yang dilarang apabila ia melibatkan unsur kepercayaan yang bertentangan dengan Islam serta cata sambutan jika ia mengandungi unsur-unsur yang haram.

Individu

Hari Ibu adalah sambutan yang bertujuan untuk memuliakan individu yang dipanggil 'ibu'. Para ulama’ telah memberikan maksud ibu ini dengan makna yang sangat baik dan mempunyai nilai yang tinggi untuk dihargai oleh setiap  individu yang bergelar 'anak', kerana ia adalah kemuliaan khusus yang telah dikurniakan oleh Allah SWT kepada manusia yang bernama 'ibu' selain kemuliaannya sebagai manusia sebaik-baik ciptaan Allah SWT.

Firman Allah SWT dalam Surah Luqman ayat 14

وَوَصَّيْنا الإنسانَ بِوالِدَيْه حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا على وَهْنٍ وَفِصالُه في عامَيْن أَنِ اشْكُرْلي وَلِوَالِدَيْك إِلَيِّ المَصِير

Maksud: Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibubapanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyusunya dalam tempoh dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua ibubapamu, hanya kepada aku kamu kembali

Syara' telah mengakui bahawa hubungan di antara anak dan ibu adalah seperti hubungan anggota semulajadi. Maka tidak akan terputus hubungan antara anak dan ibu selamanya samaada  wujudnya kedunia ini melalui perkahwinan ataupun perzinaan, bahkan dikira disisi syara' sebagai ibu dan anak pada setiap keadaan. Berbeza dengan ayah yang hanya di'iktiraf oleh syara' sebagai ayah jika melalui proses yang telah ditetapkan oleh syara' iaitu dengan perkahwinan yang sah.

Dan Allah SWT telah menjadikan suruhan agar melakukan kebaikan kepada 'ibu dan bapa' selepas suruhan agar beribadat kepadanya seperti Firman Allah SWT dalam surah Al-Isra' ayat 23 dan 24:

Maksudnya: “Dan Tuhanmu telah perintahkan, supaya engkau tidak menyembah melainkan kepadaNya semata-mata, dan hendaklah engkau berbuat baik kepada ibu bapa. Jika salah seorang dari keduanya, atau kedua-duanya sekali, sampai kepada umur tua dalam jagaan dan peliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada mereka (sebarang perkataan kasar) sekalipun perkataan “Ah”, dan janganlah engkau menengking menyergah mereka, tetapi katakanlah kepada mereka perkataan yang mulia (yang bersopan santun). Dan hendaklah engkau merendah diri kepada keduanya kerana belas kasihan dan kasih sayangmu, dan doakanlah (untuk mereka, dengan berkata): “Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.”

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh sayyidina Mu'awiyah bin Haidah, dia telah bertanya kepada Rasulullah SAW dengan katanya:

Maksudnya: “Aku bertanya ya Rasulallah kepada siapa aku perlu berbuat baik? sabda Rasulullah SAW ibumu, aku bertanya lagi kepada siapa aku perlu berbuat baik? Sabda Rasulullah SAW ibumu, aku bertanya lagi kepada siapa aku perlu berbuat baik? Rasulullah SAW bersabda ibumu, aku bertanya lagi kepada siapa aku perlu berbuat baik? Rasulullah SAW bersabda bapamu kemudian kerabatmu” 

Abu Hurairah berkata seorang lelaki bertemu dengan baginda SAW lalu bertanya :

“Siapakah manusia yang perlu aku berbuat baik? Lalu baginda menjawab : Ibumu. Lelaki tersebut bertanya lagi dan jawapan yang sama diberikan oleh baginda SAW sehingga 3 kali. Kemudian apabila ditanya pada kali yang keempat lalu baginda SAW menjawab : Bapamu” – Bukhari, Muslim dan Ahmad

Disebut oleh Imam As-Suyuti RH didahulukan kalimah ibu dalam keadaan jama' (tiga kali berturut-turut) pada melakukan perkara baik atas bapa adalah disebabkan, pada ibu ada tiga contoh kebaikan yang tiada pada ayah, salah satunya kerana ibu menanggung kesusahan ketika mengandung dan beranak yang hampir membawa kepada kematian, dan tidak akan kurang apa yang ia rasai setiap kali ia melahirkan anak, kemudian cabaran semasa menyusu sehingga anak itu besar dan tidak berhajat lagi kepada khidmat menyusunya, maka dalam perkara ini berseorangan ibu dalam menghadapi kesusahannya kemudian barulah bapa bersama-sama dalam urusan memberi nafkah, mendidik dan sebagainya.

Kesimpulan

1) Menghormati ibu dan menyantuni mereka merupakan satu kewajipan di dalam Islam. Bahkan keutamaan ibu adalah jelas daripada segala-gala bahkan bapa berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah dan Abu Hurairah.

2) Mewujudkan satu hari sebagai inisiatif dalam menyeru ke arah kebaikan merupakan usaha yang baik. Sebagaimana sambutan Hari Ibu pada hari ini adalah bagi memperingatkan golongan remaja mengenai besarnya jasa wanita yang bergelar ibu kerana golongan remaja pada hari ini kurang memberikan perhatian terhadap perkara ini. Jika ia dianggap bid’ah maka ia bukanlah merupakan bid’ah yang terlarang sebagaimana faedah yang boleh kita ambil daripada kata-kata Syeikh Abu Hamid Al-Ghazali.

3) Justeru, sambutan Hari Ibu merupakan perkara yang baik kerana ia menyeru manusia mengingati jasa ibu. Tidak salah menjadikan satu tarikh bagi menunjukkan penghormatan ke atas sesuatu peristiwa atau individu. Dalam masa yang sama, makruh jika hanya mengkhususkan mengenang jasa ibu pada hari tertentu sahaja dengan menafikan hari-hari yang lain.

4) Larangan atau haram menyambut Hari Ibu jika ia melibatkan kepercayaan dan unsur keagamaan. Maksudnya jika istilah ‘ibu’ tersebut yang mempunyai istilah yang lain seperti ketuhanan dan sebagainya yang merosakkan akidah. Begitu juga larangan menyambut Hari Ibu jika sambutan tersebut mengandungi unsur-unsur haram seperti pergaulan bebas, minum arak dan sebagainya.

5) Menyerupai sesuatu kaum iaitu orang kafir yang diharamkan adalah merujuk kepada menyerupai keagamaan dan kepercayaan. Adapun dalam urusan kebiasaan dunia maka ia tidak menjadi masalah kerana ia merupakan dalam konteks nilai asas kemanusiaan tanpa melibatkan ibadah, agama dan kepercayaan.  

Wallahu a’lam