SEKOLAH RENDAH ISLAM DARUL THULAB (PENDIDIKAN AGAMA DAN TAHFIZ AL QURAN)

SEKOLAH RENDAH ISLAM DARUL THULAB (PENDIDIKAN AGAMA DAN TAHFIZ AL QURAN)
SEKOLAH RENDAH ISLAM DARUL THULAB (PENDIDIKAN AGAMA DAN TAHFIZ AL QURAN)

BERSAMA KITA MELAHIRKAN GENERASI BERILMU DAN BERAMAL DAN BERAKHLAK

خيركم من تعلم القران وعلمه

SEBAIK-BAIK KAMU IALAH ORANG YANG BELAJAR AL-QURAN DAN MENGAJARKANNYA



Sunday, July 21, 2013

MALAM LAILATUL QADAR DALAM ALQURAN

MALAM LAILATUL QADAR DALAM ALQURAN

 


بسم الله الرحمن الر حيم

إن الحمد لله نحمده تعالى ونستعينه ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، واشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، واشهد أن محمد عبده ورسوله
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون} سورة: آل عمران – الآية: 102

OLEH:AL FADHIL USTAZ MUHAMAD NAJIB SANURI



Al-qadar artinya keagungan. Dan dalam ajaran Islam, ia telah diabadikan menjadi nama dari suatu malam di antara malam-malam bulan Ramadhan. Itulah ” Lailatul-Qodar”. Malam di mana sang hamba pada saat itu terbangun. Mensucikan diri. Menghadap Tuhannya yang menciptakan dirinya dan seluruh alam yang ia diami. Malam, yang sepenuhnya menyatu dalam kekhusukan sujud.
Malam, yang datang seirama dengan dzikir dan tangis sang hamba di belahan bumi manapun; di pojok-pojok masjid dan di rumah-rumah di tengah keterpencilan kampung.
Di malam itulah, ia telah menemukan identitas kehambaan yang sebenarnya. Ia telah terbebas dari penyakit ‘Riyak’ (ingin dipuji orang), ketika ia sembahyang, dimana semua manusia sedang nyenyak dalam tidur… ketika ia menagis beristighfar, hanya di depan Tuhannya ( bukan di depan siapa-siapa, bukan di depan uang dan patung dunia lainnya).
Demikianlah setidaknya, seorang hamba di Lailatul Qodar, itu. Dan betapa kwalitas kehambaan itu kian lengkap, ketika ia memburu malam-malamnya, seperti memburyu Lailatul qodar. ( Dan semoga kita termasuk dalam model hamba yang semacam ini ameen).
KEISTIMEWAAN LAILATUL QODAR.
Apa yang membuat malam Lailatul Qodar lebih agung dari malam-malam lainya?. Sedemikian rupa, sehingga keberadaan sang hamba di malam itu, bagai tenggelam dalam sebuah upacara yang sakral. Inilah sebuah pertanyaan, yang sejak dini telah dijawab oleh Allah SWT dalam al Qur’an, surat al Qodar;
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Terlihat dalam surat pendek ini, dari awal sampai akhir hanya melukiskan malam yang agung dengan segala keistimewaannya. Dan setidaknya ada keistimewaan yang bisa diraba dari gambaran tersebut:
a- Ia sebuah malam pertama kalinya diturunkan al-Qur’an kepada Rasulullah saw. Karenanya, malam ini adalah malam yang penuh berkah.
b- Ia sebuah malam yang dalam definisi Allah swt., lebih mulya dari pada seribu bulan:Suatu definisi yang menunjukan betapa agungnya kehadiran malam itu di tengah-tengah stuktur kehambaan manusia. Dan ternyata di malam itulah Allah swt. dengan segala kemaha kuasaan-Nya menjelaskan semua urusan yang mengandung hikmah.
Dari definisi Lebih baik dri seribu bulan ini, ada beberapa hal yang cukup penting untuk digaris bawahi, yaitu:
Pertama : seorang mufasir kontemporer; Dr. Wahbah al Zuhaily mengatakan bahwa jika pada malam itu seseorang melakukan amal baik, maka nilai perbuatan itu lebih besar dibandingkan dengan seribu bulan perbuatan serupa di malam-malam lainnya.
Kedua : dalam sebuah riwayat yang dikishkan oleh imam Ibnu Abi hatim dan Al wahidy, bahwa suatu hari Rasulullah saw. pernah menceritakan seorang di antara bani Israil yang berjuang merangkul senjata di jalan Allah swt. selama seribu bulan. Pada waktu itu, para sahabat terkagum-kagum terhadap kepribadian mujahid yang diceritakan Rasulullah saw. itu. Sejak itulah Allah swt. kemudian menurunkan surat al Qodar ini, yang menerangkan bahwa beribadah di malam Lailatul qodar masih lebih utama dari seribu bulan berjihat di jalan Allah swt.
Ketiga : dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim Rasulullah saw. bersabda :
” Barang siapa bangun di malam Lailatul qodar dengan bekal iman seraya melakukan muhasabah; introspeksi diri maka pahalanya adalah ampunan atas segala dosa-dosanya yang telah lewat “.
c- Ia sebuah malam, yang di dalamnya Alllah swt. menurunkan malaikat-malaikatNya, termasuk juga malaikat Jibril. Maksud pengiriman delegasi para malaikat ini, seperti yang ditafsirkan olleh Dr, Wahbah Al Zuhaily- tafsir al Munir- adalah untuk merekam segala perbuatan manusia; berbentuk ketaatan maupun kemaksiatan.
d- Ia sebuah malam yang menyimpan kedamaian, ketenangan dan barakah yang tiada bandingannya. Dan kedamaian ini terus berlangsung hingga terbit fajar;. Suatu kedamaian, yang dalam pandangan Dr Wahbah, ditandai dengan turunya segala kebaikan dan barakah. Turunya para malaikat silih berganti sambil menghantarkan rahmat Allah swt. Demikianlah suasana itu mengalir bagai air bah, hingga menjelang fajar. pada waktu itu, malam menjadi seperti sebuah mekanisme Illahiah yang berbeda dari malam-malam lainnya; tiada balak (siksaan langsung dari Allah swt), tiada keleluasaan bagi Syetan untuk beroprasi, dan meloloskan semua siasatnya. Karena di malam itu, semua hamba pada menyatukan sujud di hadapan penciptanya; Allah swt.
BAGAIMANA MENGETAHUI LAILATUL QODAR
Pertama ; dalam riwayat imam Ahmad, Rasulullah saw bersabda bahwa lailatul Qodar turun pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Terutama pada malam-malam yang ganjil; ke sembilan, ketujuh, kelima, ketiga atau pada malam yang paling akhir.
Kedua ; Sebagian besar ulama’ meyakini bahwa malam Lailatul qodar itu turun pada malam ke 27 dari bulan Ramadhan. Dasar keyakinan itu adalah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Tirmizi bahwa Ziir Ibnu Jubais berkata kepada Ubai Ibnu Kaab bahwa saudara Ibnu Masud berkata: “Barang siapa (tidak pernah tidur malam) sepanjang tahun pasti akan mendapatkan malam lailatul qadar. Ubai berkata: semoga Allah swt. mengampuni Abi Abdirrohman (Ibnu MAsud). Dia sebenarnya mengetahui bahwa malam lailatul qadar itu turun pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Bahkan ia tahu bahwa lailatul qadar itu turun pada tanggal 27 Ramadhan. (tapi ia tidak menerangkan hal itu) supaya orang-orang tidak hanya bangun di malam itu saja. (untuk menguatkan perkataannya ini ) Ubai kemudian berrsumpah bahwa malam itu jatuh pada malam 27 Ramadhan. Ziir berkata kepada Ubai: dengan apa kau bisa berkata demikian wahai Abu Mundzir ? Ubai menjawab : dengan tanda-tanda yang telah diberitahukan oleh Rasulullah saw. yakni bahwa matahari pada waktu itu terbit dengan tanpa cahaya.
Ketiga : hal yang juga menandai hadirnya malam lailatul qadar ini, bisa di intip dari kenyataan alam; jika di pagi harinya matahari agak suram dan cahayanya tidak begitu terang , berarti di malam harinya, lailatul qadar telah turun. Itulah seperti yang di terangkan dalam riwayat berikut:
  1. Riwayat Ibnu Abbas bahwa Rasululah saw. bersabda : Malam lailatul qadar hawanya sedang; tidak panas dan tidak dingin. Dan dipagi harinya matahari terbit dengan cahaya yang agak lemah dan kemerah-merahan. 
  2. Riwayat Jabir Ibnu Abdullah: Rasulullah saw. bersabda bahwa beliau melihat lailatul qadar , hawanya sedang, tidak panas dan tidak dingin. Cerah seperti berbulan. Pad waktu itu syetan pada terdiam hingga terbit fajar.
    Jabir ra. dalam sebuah riwayat berkata : “saya pernah menyaksikan malam laulatul qadar. (Namun entah ) malam itu (tiba-tiba) hilang dari ingatan saya. (yang jelas) malam itu jatuh pada sepuluh hari terakhir dari malam-malam (bulan Ramadhan). Ia tampak cerah dan terang. Tidak panas dan tidak dingin . Terlihat seperti di sinari bulan. Pada waktu itu, tidak keluar syetan-syetan malam , hingga cahaya fajar memancar.”

    Yang jelas, rahasia disembunyikannya lailatul qadar ini, banyak hikmahnya. Seperti disembunyikannya waktu kapan dari setiap hamba ini akan mati. Diantara hikmah yang paling pokok adalah agar masing-masing dari hamba ini kian bersungguh-sungguh untuk meningkatkan amal soleh dan menjauhi segala macam bentuk kemungkaran , sebagaimana ia harus bersungguh-sungguh dalam mengintai malam lailatul qadar. Seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw. :
    تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان
    Artinya : Intailah malam lailatul qadar, pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.
    Semoga uraian singkat ini ada mamfaatnya bagi penulis,khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya. Hasbiyallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’mannasiir…
Berbicara tentang Lailat Al-Qadar mengharuskan kita  berbicara tentang surat Al-Qadar.
Surat  Al-Qadar  adalah  surat  ke-97  menurut urutannya dalam Mushaf.  Ia  ditempatkan  sesudah  surat  Iqra'.  Para   ulama Al-Quran menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra'. Bahkan sebagian di antara mereka menyatakan bahwa surat Al-Qadar turun setelah Nabi Saw. berhijrah ke Madinah.
Penempatan urutan surat dalam Al-Quran dilakukan langsung atas perintah  Allah  Swt.,   dan   dari   perurutannya   ditemukan keserasian-keserasian yang mengagumkan.
Kalau  dalam surat Iqra' Nabi Saw. (demikian pula kaum Muslim) diperintahkan untuk membaca, dan yang dibaca itu  antara  lain adalah  Al-Quran, maka wajar jika surat sesudahnya yakni surat Al-Qadar  ini  berbicara  tentang   turunnya   Al-Quran,   dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam Nuzul Al-Quran.
Bulan  Ramadhan  memiliki  sekian  banyak  keistimewaan, salah satunya adalah Lailat Al-Qadar, suatu malam yang oleh Al-Quran "lebih baik dari seribu bulan."
Tetapi  apa  dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni malam ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu,  atau  terjadi  setiap  bulan  Ramadhan  sepanjang masa? Bagaimana kedatangannya, apakah setiap orang  yang  menantinya pasti  akan mendapatkannya, dan benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya  air, heningnya  malam,  dan  menunduknya pepohonan dan sebagainya)? Bahkan masih banyak lagi  pertanyaan  yang  dapat  dan  sering muncul berkaitan dengan malam Al-Qadar itu.
Yang  pasti  dan  harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Al-Quran  bahwa,  "Ada  suatu  malam  yang  bernama Lailat  Al-Qadar,  dan bahwa malam itu adalah malam yang penuh berkah, di mana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan."
Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang  penah hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami (QS    Al-Dukhan [44]: 3-5).
Malam tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena kitab  suci menginformasikan bahwa ia diturunkan Allah pada bulan Ramadhan (QS Al-Baqarah [2]: 185) serta pada malam Al-Qadar (QS Al-Qadr [97]: l).
Malam  tersebut  adalah  malam  mulia.  Tidak  mudah diketahui betapa besar kemuliannnya. Hal  ini  disyaratkan  oleh  adanya "pertanyaan" dalam bentuk pengagungan, yaitu:
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)
Tiga belas kali kalimat ma  adraka  terulang  dalam  Al-Quran, sepuluh  di  antaranya  mempertanyakan  tentang kehebatan yang berkait dengan hari  kemudian,  seperti:  Ma  adraka  ma  yaum al-fashl,  dan sebagainya. Kesemuanya merupakan hal yang tidak mudah  dijangkau  oleh  akal  pikiran  manusia,  kalau  enggan berkata  mustahil  dijangkaunya. Tiga kali ma adraka sisa dari angka tiga belas itu adalah:
Tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (QS Al-Thariq [86]: 2)
Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (QS Al-Balad [90]: 12)
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (QS Al-Qadr [97]: 2)
Pemakaian kata-kata ma adraka dalam Al-Quran berkaitan  dengan objek  pertanyaan  yang menunjukkan hal-hal yang sangat hebat, dan sulit  dijangkau  hakikatnya  secara  sempurna  oleh  akal pikiran manusia.
Walaupun   demikian,   sementara   ulama   membedakan   antara pertanyaan ma  adraka  dan  ma  yudrika  yang  juga  digunakan Al-Quran dalam tiga ayat.
Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu adalah dekat waktunya? (QS Al-Ahzab [33]: 63)
Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? (QS Al-Syura [42]: 17
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dan dosa)? (QS 'Abasa [80]: 3).
Dua ayat pertama di  atas  mempertanyakan  dengan  ma  yudrika menyangkut   waktu   kedatangan  kiamat,  sedang  ayat  ketiga berkaitan dengan kesucian jiwa manusia.  Ketiga  hal  tersebut tidak mungkin diketahui manusia.
Secara   gamblang   Al-Quran   --demikian   pula   As-Sunnah-- menyatakan bahwa Nabi Saw. tak mengetahui kapan datangnya hari kiamat,  tidak  pula mengetahui tentang~perkara yang gaib. Ini berarti bahwa ma yudrika digunakan oleh Al-Quran untuk hal-hal yang  tidak  mungkin  diketahui  walau oleh Nabi Saw. sendiri, sedang wa  ma  adraka,  walau  berupa  pertanyaan  namun  pada akhirnya  Allah Swt. menyampaikannya kepada Nabi Saw. Sehingga informasi  lanjutan  dapat  diperoleh  dari  beliau.  Demikian perhedaan kedua kalimat tersebut. 
Ini  berarti  bahwa  persoalan  Lailat Al-Qadar, harus dirujuk kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw., karena di  sanalah kita dapat memperoleh informasinya.
Kembali kepada pertanyaan semula, apa malam kemuliaan itu? Apa arti malam Qadar, dan mengapa malam itu dinamai  demikian?  Di sini ditemukan berbagai jawaban.
Kata qadar sendiri paling tidak digunakan untuk tiga arti:
1.  Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan  hidup  manusia. Pendapat  ini  dikuatkan  oleh penganutnya dengan firman Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3 yang disebut di atas. (Ada  ulama yang  memahami  penetapan  itu  dalam batas setahun). Al-Quran yang turun pada malam Lailat Al-Qadar,  diartikan  bahwa  pada malam  itu  Allah  Swt.  mengatur dan menetapkan khiththah dan strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw.,  guna  mengajak  manusia kepada  agama  yang  benar, yang pada akhirnya akan menetapkan perjalanan sejarah umat manusia baik sebagai  individu  maupun kelompok.
2. Kemuliaan.   Malam  tersebut  adalah  malam  mulia  tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih  sebagai  malam  turunnya Al-Quran,  serta  karena  ia  menjadi  titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih. Kata  qadar  yang  berarti  mulia ditemukan  dalam surat Al-An'am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik:
Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.
3. Sempit. Malam tersebut adalah  malam  yang  sempit,  karena banyakuya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr:
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh ((Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala  urusan.
Kata qadar yang berarti sempit digunakan Al-Quran antara  1ain dalam surat A1-Ra'd (13): 26:
Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya).
Ketiga arti tersebut  pada  hakikatnya  dapat  menjadi  benar, karena  bukankah  malam tersebut adalah malam mulia, yang bila diraih maka ia menetapkan masa depan manusia, dan  bahwa  pada malam  itu  malaikat-malaikat  turun ke bumi membawa kedamaian dan  ketenangan.  Namun  demikian,  sebelum  kita  melanjutkan bahasan  tentang  Laitat  Al-Qadar,  maka terlebih dahulu akan dijawab pertanyaan tentang kehadirannya  adakah  setiap  tahun atau  hanya  sekali, yakni ketika turunnya Al-Quran lima belas abad yang lalu?
Dari Al-Quran  kita  menemukan  penjelasan  bahwa  wahyu-wahyu Allah  itu diturunkan pada Lailat Al-Qadar. Akan tetapi karena umat sepakat mempercayai bahwa  Al-Quran  telah  sempurna  dan tidak ada lagi wahyu setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., maka atas dasar logika itu, ada yang berpendapat bahwa malam  mulia itu sudah tidak akan hadir lagi. Kemuliaan yang diperoleh oleh malam  tersebut  adalah  karena  ia  terpilih  menjadi   waktu turunnya Al-Quran.
Pakar  hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah  bersabda bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.
Pendapat  tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak  teks hadis  yang  menunjukkan  bahwa  Lailat  Al-Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan  Rasululllah  Saw.  Menganjurkan umatnya  untuk  mempersiapkan  jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada  malam-malam  ganjil  setelah  berlalu  dua puluh Ramadhan.
.......................
Demikian sabda Nabi Saw.
Memang  turunnya  Al-Quran  lima  belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi  itu  bukan  berarti  bahwa ketika  itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu turun,  tetapi  karena  adanya  faktor  intern  pada malam itu sendiri.
Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk  kata kerja  mudhari' (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang mengandung arti kesinambungan, atau  terjadinya  sesuatu  pada masa kini dan masa datang.
Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya  itu?
Tidak  sedikit  umat  Islam  yang  menduganya  demikian. Namun dugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu  dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak.  Di  sisi  1ain  berarti bahwa   kehadirannya   ditandai  oleh  hal-hal  yang  bersifat fisik-material,  sedangkan  riwayat-riwayat  demikian,   tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.
Seandainya,  sekali  lagi  seandainya,  ada  tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui  oleh  orang-orang  yang tidak    mempersiapkan   diri   dan   menyucikan   jiwa   guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin  akan  menyatu  dan bertemu.  Kebaikan  dan  kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat Al-Qadar tidak mungkin akan diraih  kecuali  oleh  orang-orang tertentu  saja.  Tamu  agung  yang  berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap  orang  di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas  kedatangan  kekasih,  namun  ternyata  sang kekasih tidak sudi mampir menemuinya?
Demikian  juga  dengan  Lailat  Al-Qadar.  Itu  sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan  ini  adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan  Ramadhan. Karena,  ketika  itu,  diharapkan  jiwa  manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai  satu  tingkat kesadaran  dan  kesucian  yang  memungkinkan  malam  mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya  Rasul  Saw. menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah  mulai  bersemi,  dan Lailat  Al-Qadar  datang  menemui seseorang, ketika itu, malam kehadirannya menjadi saat qadar dalam  arti,  saat  menentukan bagi  perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang  bersangkutan  adalah  saat  titik  tolak  guna meraih  kemuliaan  dan  kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna  menyertai dan  membimbingnya  menuju  kebaikan  sampai  terbitnya  fajar kehidupannya yang baru kelak  di  hari  kemudian.  (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).
Syaikh  Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. 'Abduh  memberi ilustrasi berikut:  
Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan  ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang  itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.
Yang  membisikkan  kebaikan  adalah  malaikat,   sedang   yang membisikkan  keburukan  adalah  setan  atau paling tidak, kata 'Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat  atau setan.  Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri  menyambutnya,  menjadikan  yang bersangkutan  akan  selalu  disertai  oleh  malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong  untuk  melakukan  kebaikan-kebaikan, dan  dia  sendiri  akan  selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam  Lailat  Al-Qadar, tapi  sampai  akhir  hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.
Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil mengamalkan  i'tikaf  di  masjid  dalam  rangka perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat  suci.  Segala  aktivitas kebajikan   bermula   di  masjid.  Di  masjid  pula  seseorang diharapkan merenung  tentang  diri  dan  masyarakatnya,  serta dapat  menghindar  dari  hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan  pengetahuan  dan  pengkayaan iman.  Itu  sebabnya  ketika  melaksanakan i'tikaf, dianjurkan untuk  memperbanyak  doa  dan  bacaan  Al-Quran,  atau  bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.
Malam  Qadar  yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung  tentang diri  beliau  dan  masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya,  turunlah  Ar-Ruh  (Jibril)  membawa  ajaran  dan membimbing  beliau  sehingga  terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat  manusia. Karena  itu  pula  beliau  mengajarkan  kepada  umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar  itu,  antara  1ain adalah melakukan i'tikaf.
Walaupun  i'tikaf  dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i,  walau sesaat  selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa.  Di  sanalah  beliau  bertadarus  dan  merenung  sambil berdoa.
Salah satu doa yang  paling  sering  beliau  baca  dan  hayati maknanya adalah:
Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).
Doa ini bukan  sekadar  berarti  permohonan  untuk  memperoleh kebajikan  dunia  dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai  usaha.  Permohonan  itu  juga  berarti  upaya  untuk menjadikan  kebajikan  dan  kebahagiaan  yang  diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di  dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.
Adapun   menyangkut   tanda   alamiah,   maka  Al-Quran  tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal  tersebut, tetapi  hadis  tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal  melakukan  penyaringan  yang  cukup  ketat terhadap hadis Nabi Saw.
Muslim,  Abu  Daud,  dan  Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut,
Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,
Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas ...
Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan  karena  itu kita  dapat  berkata  bahwa  tanda  yang  paling jelas tentang kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian  dan ketenangan.  Semoga  malam  mulia  itu berkenan mampir menemui kita.Pakar  hadis Ibnu Hajar menyebutkan satu riwayat dari penganut paham di atas yang menyatakan bahwa Nabi Saw. pernah  bersabda bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi.
Pendapat  tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena mereka berpegang kepada teks ayat Al-Quran, serta sekian banyak  teks hadis  yang  menunjukkan  bahwa  Lailat  Al-Qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan  Rasululllah  Saw.  Menganjurkan umatnya  untuk  mempersiapkan  jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada  malam-malam  ganjil  setelah  berlalu  dua puluh Ramadhan.
.......................
Demikian sabda Nabi Saw.
Memang  turunnya  Al-Quran  lima  belas abad yang lalu terjadi pada malam Lailat Al-Qadar, tetapi  itu  bukan  berarti  bahwa ketika  itu saja malam mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemuliaannya bukan hanya disebabkan karena Al-Quran ketika itu turun,  tetapi  karena  adanya  faktor  intern  pada malam itu sendiri.
Pendapat di atas dikuatkan juga dengan penggunaan bentuk  kata kerja  mudhari' (present tense) oleh ayat 4 surat Al-Qadr yang mengandung arti kesinambungan, atau  terjadinya  sesuatu  pada masa kini dan masa datang.
Nah, apakah bila Lailat Al-Qadar hadir, ia akan menemui setiap orang yang terjaga (tidak tidur) pada malam kehadirannya  itu?
Tidak  sedikit  umat  Islam  yang  menduganya  demikian. Namun dugaan itu menurut hemat penulis keliru, karena hal itu  dapat berarti bahwa yang memperoleh keistimewaan adalah yang terjaga baik untuk menyambutnya maupun tidak.  Di  sisi  1ain  berarti bahwa   kehadirannya   ditandai  oleh  hal-hal  yang  bersifat fisik-material,  sedangkan  riwayat-riwayat  demikian,   tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.
Seandainya,  sekali  lagi  seandainya,  ada  tanda-tanda fisik material, maka itu pun takkan ditemui  oleh  orang-orang  yang tidak    mempersiapkan   diri   dan   menyucikan   jiwa   guna menyambutnya. Air dan minyak tidak mungkin  akan  menyatu  dan bertemu.  Kebaikan  dan  kemuliaan yang dihadirkan oleh Lailat Al-Qadar tidak mungkin akan diraih  kecuali  oleh  orang-orang tertentu  saja.  Tamu  agung  yang  berkunjung ke satu tempat, tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap  orang  di sana mendambakannya. Bukankah ada orang yang sangat rindu atas  kedatangan  kekasih,  namun  ternyata  sang kekasih tidak sudi mampir menemuinya?
Demikian  juga  dengan  Lailat  Al-Qadar.  Itu  sebabnya bulan Ramadhan menjadi bulan kehadirannya, karena bulan  ini  adalah bulan penyucian jiwa, dan itu pula sebabnya sehingga ia diduga oleh Rasul datang pada sepuluh malam terakhir bulan  Ramadhan. Karena,  ketika  itu,  diharapkan  jiwa  manusia yang berpuasa selama dua puluh hari sebelumnya telah mencapai  satu  tingkat kesadaran  dan  kesucian  yang  memungkinkan  malam  mulia itu berkenan mampir menemuinya, dan itu pula sebabnya  Rasul  Saw. menganjurkan sekaligus mempraktekkan i'tikaf (berdiam diri dan merenung di masjid) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah  mulai  bersemi,  dan Lailat  Al-Qadar  datang  menemui seseorang, ketika itu, malam kehadirannya menjadi saat qadar dalam  arti,  saat  menentukan bagi  perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang  bersangkutan  adalah  saat  titik  tolak  guna meraih  kemuliaan  dan  kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan sejak saat itu, malaikat akan turun guna  menyertai dan  membimbingnya  menuju  kebaikan  sampai  terbitnya  fajar kehidupannya yang baru kelak  di  hari  kemudian.  (Perhatikan kembali makna-makna Al-Qadar yang dikemukakan di atas!).
Syaikh  Muhammad 'Abduh, menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang kehadiran malaikat dalam diri manusia. 'Abduh  memberi ilustrasi berikut:  
Setiap orang dapat merasakan bahwa dalam jiwanya ada dua macam bisikan, baik dan buruk. Manusia sering merasakan pertarungan antar keduanya, seakan apa yang terlintas dalam pikirannya ketika itu sedang diajukan  ke satu sidang pengadilan. Yang ini menerima dan yang  itu menolak, atau yang ini berkata lakukan dan yang itu mencegah, sampai akhirnya sidang memutuskan sesuatu.
Yang  membisikkan  kebaikan  adalah  malaikat,   sedang   yang membisikkan  keburukan  adalah  setan  atau paling tidak, kata 'Abduh, penyebab adanya bisikan tersebut adalah malaikat  atau setan.  Turunnya malaikat pada malam Lailatul Al-Qadar menemui orang yang mempersiapkan diri  menyambutnya,  menjadikan  yang bersangkutan  akan  selalu  disertai  oleh  malaikat. Sehingga jiwanya selalu terdorong  untuk  melakukan  kebaikan-kebaikan, dan  dia  sendiri  akan  selalu merasakan salam (rasa aman dan damai) yang tak terbatas sampai fajar malam  Lailat  Al-Qadar, tapi  sampai  akhir  hayat menuju fajar kehidupan baru di hari kemudian kelak.
Di atas telah di kemukakan bahwa Nabi Saw. menganjurkan sambil mengamalkan  i'tikaf  di  masjid  dalam  rangka perenungan dan penyucian jiwa. Masjid adalah tempat  suci.  Segala  aktivitas kebajikan   bermula   di  masjid.  Di  masjid  pula  seseorang diharapkan merenung  tentang  diri  dan  masyarakatnya,  serta dapat  menghindar  dari  hiruk pikuk yang menyesakkan jiwa dan pikiran guna memperoleh tambahan  pengetahuan  dan  pengkayaan iman.  Itu  sebabnya  ketika  melaksanakan i'tikaf, dianjurkan untuk  memperbanyak  doa  dan  bacaan  Al-Quran,  atau  bahkan bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.
Malam  Qadar  yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali adalah ketika beliau menyendiri di Gua Hira, merenung  tentang diri  beliau  dan  masyarakat. Saat jiwa beliau telah mencapai kesuciannya,  turunlah  Ar-Ruh  (Jibril)  membawa  ajaran  dan membimbing  beliau  sehingga  terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat  manusia. Karena  itu  pula  beliau  mengajarkan  kepada  umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran Lailat Al-Qadar  itu,  antara  1ain adalah melakukan i'tikaf.
Walaupun  i'tikaf  dapat dilakukan kapan saja, dan dalam waktu berapa lama saja --bahkan dalam pandangan Imam Syafi'i,  walau sesaat  selama dibarengi oleh niat yang suci-- namun Nabi Saw. selalu melakukannya pada sepuluh hari dan malam terakhir bulan puasa.  Di  sanalah  beliau  bertadarus  dan  merenung  sambil berdoa.
Salah satu doa yang  paling  sering  beliau  baca  dan  hayati maknanya adalah:
Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan peliharalah kami dan siksa neraka (QS Al-Baqarah [2]: 201).
Doa ini bukan  sekadar  berarti  permohonan  untuk  memperoleh kebajikan  dunia  dan kebajikan akhirat, tetapi ia lebih-lebih lagi bertujuan untuk memantapkan langkah dalam berupaya meraih kebajikan dimaksud, karena doa mengandung arti permohonan yang disertai  usaha.  Permohonan  itu  juga  berarti  upaya  untuk menjadikan  kebajikan  dan  kebahagiaan  yang  diperoleh dalam kehidupan dunia ini, tidak hanya terbatas dampaknya di  dunia, tetapi berlanjut hingga hari kemudian kelak.
Adapun   menyangkut   tanda   alamiah,   maka  Al-Quran  tidak menyinggungnya. Ada beberapa hadis mengingatkan hal  tersebut, tetapi  hadis  tersebut tidak diriwayatkan oleh Bukhari, pakar hadis yang dikenal  melakukan  penyaringan  yang  cukup  ketat terhadap hadis Nabi Saw.
Muslim,  Abu  Daud,  dan  Al-Tirmidzi antara lain meriwayatkan melalui sahabat Nabi Ubay bin Ka'ab, sebagai berikut,
Tanda kehadiran Lailat Al-Qadr adalah matahari pada pagi harinya (terlihat) putih tanpa sinar.
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan,
Tandanya adalah langit bersih, terang bagaikan bulan sedang purnama, tenang, tidak dingin dan tidak pula panas ...
Hadis ini dapat diperselisihkan kesahihannya, dan  karena  itu kita  dapat  berkata  bahwa  tanda  yang  paling jelas tentang kehadiran Lailat Al-Qadar bagi seseorang adalah kedamaian  dan ketenangan.  Semoga  malam  mulia  itu berkenan mampir menemui kita.[]

Saturday, November 17, 2012

MENCIPTA GENERASI PEMANGKIN KECEMERLANGAN UMAT



MENCIPTA GENERASI PEMANGKIN KECEMERLANGAN UMAT
Saudara muslimin yang dihormati,

PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang diutuskan kepada al-khatimul anbiya’, Sayyidun Nabi al-Mustafa Muhammad Rasululullah s.a.w. Baginda diutuskan sebagai rahmat ke serata alam. Ini dinyatakan dalam Surah al-Anbiya’, ayat ke-107:
“Tidak Kami (Allah) utuskan engkau (wahai Nabi Muhammad) melainkan menjadi rahmat kepada sekalian alam”

Diutuskan baginda Muhammad Rasululullah s.a.w. membawa cahaya untuk menerangi bungkaman kegelapan yang membelenggu manusia secara keseluruhannya. Berkat usaha gigih baginda dan para sahabat serta generasi yang mewarisi perjuangan mulia, maka nur Islam telah sampai kepada kita hari ini. Nikmat iman dan Islam yang kita rasa merupakan bukti jelas betapa semangat kasih dan cinta baginda Muhammad Rasululullah s.a.w. kepada umatnya diwarisi secara turun temurun. Dan telah tiba masanya, kita generasi muda Islam pada hari ini memeluk semangat Ummati! Ummati! Ummati! daripada baginda Muhammad Rasululullah s.a.w. Marilah kita berselawat sebanyak-banyaknya atas baginda sebagai tanda cinta dan terima kasih. Allahumma Solli wasallim baarik ‘alaih!

Umat Islam bukan sahaja mencorak kecemerlangan Islam bahkan dunia secara keseluruhannya sejak berkurun lamanya. Dunia telah diberikan makna oleh para pewaris baginda Muhammad Rasululullah s.a.w. dalam lapangan politik, adab, pemikiran, sains dan teknologi, perubatan dan segala macam. Kecemerlangan ini adalah bertitik tolak daripada pemaknaan diri sebagai manusia untuk beroleh kejelasan matlamat dan halatuju dan dipacu dengan kecintaan dan kesungguhan demi Islam. Sabda baginda Muhammad Rasululullah s.a.w.;

“Islam itu tinggi dan tiada yang lebih tinggi daripadanya”
(H.R. Abu Daud)

Akan tetapi apabila umat Islam longgar, menjauhi bahkan menafikan agamanya, maka bermula di sanalah saatnya umat dirundung nestapa. Kehilangan peranan umat Islam di pentas dunia, adalah malapetaka yang dahsyat yang pernah dialami oleh manusia. Perkara ini disebut oleh seorang ulama sufi India, Syed Abul Hassan Ali Nadwi dalam bukunya“Kerugian Dunia Kerana Kemunduran Umat Islam”:
“Kalaulah dunia mengetahui akan hakikat malapetaka ini, berapa besar kerugian dunia dan kehilangannya dengan kejadian ini, dunia sampai hari ini akan menjadikan hari kejatuhan Muslimin itu sebagai hari berkabung yang penuh sesal, tangis dan ratapan”

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya “Risalah Untuk Kaum Muslimin”, dalam menggambarkan keadaan umat Islam masakini puluhan tahun yang lampau:
Muslim tergenggam belenggu kafir,
Akhirat luput, dunia tercicir,
Budaya jahil luas membanjir,
Banyak yang karam tiada tertaksir.
Barus dan Singkel, Pasai dan Ranir,
Silam ditelan masa nan mungkir,
Lupa Jawaban dihafal mahir,
Bagi menyangkal Munkar dan Nakir.

Hadirin dan hadirat yang dikasihi,

Sebelum kita mendalami gagasan “Mencipta Generasi Pemangkin Kecemerlangan Umat,” moleklah kiranya kita hadamkan definisi ataupun pengertian yang ingin dihuraikan dalam ucapan dasar ini.

Mencipta
Kamus Dewan mendefinasikan istilah ‘mencipta’ sebagai ‘menerbitkan’, ‘mewujudkan’ ataupun ‘menghasilkan.’ Hakikatnya sifat ‘mencipta’ hanyalah milik Allah s.w.t. yang Maha Menciptakan.  Namun istilah ini digunapakai dalam tajuk ini hanyalah sebagai metafora untuk menggambarkan betapa usaha ini bukanlah suatu permainan sekadar pengisian senggang masa lapang.

Maka, tiadalah niat untuk mengambil sifat Allah s.w.t. melainkan kepada-Nya kita berserah diri dan memohon pertolongan agar usaha ‘mencipta’ yang kita maksudkan di sini dizinkan oleh-Nya dengan taufiq dan hidayah daripada-Nya.
 
Generasi Pemangkin
Ibnu Khaldun dalam kitabnya “Muqoddimah” menggariskan teori sosial tentang kebangkitan dan kejatuhan ketamadunan. Di mana sesebuah ketamadunan akan menempuhi lima fasa iaitu fasa pengasas, pembangunan, kemuncak, kemunduran dan kejatuhan. Kelima-lima fasa ini berlangsung dalam tiga masa dengan setiap satunya menjangkau 40 tahun.

Apa yang menarik untuk difikirkan ialah generasi yang sering dikaitkan dengan fasa kemunduran dan kejatuhan sesebuah ketamadunan adalah generasi muda. Generasi muda dinilai sebagai generasi pengambil laba keuntungan daripada penat lelah perjuangan generasi awal. Maka jadilah mereka sebagai generasi muda minda pengguna yang hanya menunggu disuap dan ditongkatkan setiap masa.

Adalah menjadi tanggungjawab untuk memperbetulkan generasi muda minda pengguna hari ini untuk diubah menjadi generasi muda minda pencipta. Maka ‘Generasi Pemangkin’ yang dibicarakan dalam tajuk ini adalah generasi muda minda pencipta yang keluar daripada kepompong individualistik untuk menjadi generasi yang punya upaya dan kuasa untuk memangkin kecemerlangan umat secara keseluruhannya.

Kecemerlangan Umat
Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud dalam bukunya “Pembangunan Di Malaysia Ke Arah Satu Kefahaman Baru Yang Lebih Sempurna” menjelaskan kecemerlangan umat tidak boleh hanya disimpulkan daripada tertegaknya kompleks Islam pencakar langit, masjid marmar bertiang seribu mahupun pusat Islam senireka baru. Kerana al-Falah iaitu kejayaan yang sifatnya tampak pada luaran tidak lengkap tanpa as-Sa’adah iaitu kebahagiaan mewakili sifat dalaman yang lebih bermakna. Maka itu, kecemerlangan umat harus punya keduanya supaya dipandang tinggi pada mata duniawi dan ukhrawi. Begitulah yang dicontohkan daripada Baghdad suatu ketika dahulu yang dikenali sebagai sebuah pusat Ilmu antarabangsa. Bukan sahaja dihiasi dengan pembangunan utiliti dan prasarananya tetapi yang lebih mengagumkan adalah pembangunan adab dan nilainya yang tiada banding pada zaman kegemilannya.

Takrifan hakiki hal ini berhasil daripada rujukan kita daripada al-Quran dalam Surah Ali Imran, ayat ke-110:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (kerana kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Inilah ciri-ciri yang digagaskan untuk kita beroleh status khayra ummah yang sudah pasti dijanjikan kecemerlangannya di dunia mahupun di akhirat. Dengan kita berbuat kebaikan, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah s.w.t. maka kecemerlangan itu sudah pasti dalam gengaman umat ini.

Hadirin dan hadirat yang dihormati,

PELAN BESAR PERJUANGAN
Kecemerlangan umat yang diimpikan akan hanya tinggal angan-angan sekiranya klise tersebut hanya bermain di bibir sebagai retorik tanpa satu pelan besar perjuangan untuk mencapainya. Justeru, adalah menjasi satu keperluan bagi generasi muda untuk memangkin kecemerlangan umat untuk punya satu pelan besar bagi merumuskan metodologi dan strategi untuk mencapainya. Perjuangan ini bukan sekejap masa yang diambil dan bukan sedikit pengorbanan yang ditagih. Namun, inilah mahar yang harus dibayar untuk memastikan kecemerlangan umat suatu realiti.

Perancangan Stategik
Marilah kita renungkan sejenak, betapa pentingnya perancangan strategik daripada kaca mata sejarah. Ini kerana sejarah tabiatnya berulang apabila sesuatu peristiwa melalui sebab-sebab ataupun jalan yang sama.

Umat tamadun Islam lampau tidak sunyi daripada jatuh bangunnya. Ada masanya ia naik. Ada masanya ia jatuh dan tampak mustahil untuk bangun semula. Tetapi Allah Rabbul Jalil itu Maha Perancang, Dia mahu menunjukkan bagaimanakah umat itu boleh bangkit semula melalui sunnah-sunnah sejarah yang Ia telah diciptakan.

Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam sebagai Rasul dan imam pemimpin kepada umat Islam pada era baginda. Baginda memiliki perancangan strategik yang berpandukan wahyu dan izin Allah, mengajak manusia kepada Allah, dan memakmurkan muka bumi. Legasi yang baginda gagaskan telah diteruskan oleh Khulafa’ ar-Rasyidin. Tanpa perancangan strategik yang teliti amat mustahil sebuah empayar yang baru dapat tersebar dengan pantas dan teguh oleh pewaris-pewaris umat.

Kira-kira 5 abad kemudiannya, umat Islam di ambang kejatuhan. Kota suci yang ketiga umat Islam, iaitu Baitul Maqdis ataupun Jerusalem telah ditawan oleh gerombolan tentera Salib. Kira-kira 100 tahun setelah penaklukan tersebut, muncul sebuah generasi yang cemerlang, berkat hasil susunan Imam al-Ghazali dalam pembentukan generasi Sultan Salahuddin. Perkara ini dikupas dengan mendalam oleh Dr. Majid Irsan Kailani dalam buku beliau, iaitu “Kebangkitan Generasi Salahuddin dan Kembalinya Jerusalem ke Pangkuan Islam”. Sultan Salahuddin telah terlibat dalam jihad sejak berumur 14 tahun. Beliau berjaya menawan Baitul Maqdis ketika berumur 56 tahun, dengan perancangan yang teliti dan sabar merealisasikannya.

Begitu juga seorang pemimpin ulung, iaitu Sultan Muhammad II al-Fateh yang telah menawan  Kota Konstatinopel pada tahun 1453 ketika berumur 24 tahun. Pembebasan kota tersebut adalah hasil penelitian perancangan strategik yang diwarisi oleh ayahandanya Sultan Murad II. Impian membebaskan kota tersebut telah dikhayalkam oleh ibunya sejak kecil lagi.Sultan yang muda tersebut bukan sahaja panduan ulama, menyusun tentera yang terbaik, diplomasi politik antarabangsa, tetapi beliau juga mengambil kira cuaca, fenomena alam dan teknologi. Baginda sultan menjadikan hadith Nabi s.a.w menjadi realiti. Diriwayat oleh Imam Ahmad, bahawa Rasulullah s.a.w besabda ketika menggali Parit Khandaq (5 Hijrah):
“Kota Konstatinopel akan jatuh ke tangan tentera Islam. Rajanya sewaktu itu adalah sebaik-baik raja yang ada. Tenteranya juga sebaik-baik tentera.”

Perkara ini dihuraikan dengan baik oleh Ustaz Muhammad Syaari Abdul Rahman dalam buku beliau, “Kuasa Kepimpinan al-Fateh”.

Satu lagi bukti penting boleh dipelajari adalah daripada gerakan Zionis yang mempunyai perancangan yang amat teliti untuk membina negara bangsa mereka Israel. Ini bukan bermaksud kita mengagungkan mereka. Akan tetapi sebagai ikbtibar untuk mengukur  bagaimanakah kedudukan kita sekarang dengan perancangan dan usaha yang mereka telah rencanakan. Merujuk kepada buku “Islam and the Problem of Israel” karangan Dr. Ismail Raji Faruqi, ideologi Zionisme telah digagaskan oleh seorang ahli fikir, sekularis berbangsa Yahudi yang bernama Theodor Hertzl. Beliau terpengaruh akan idea negara bangsa ataupun nasionalisme yang menggagaskan negara yang dibentuk oleh sesuatu bangsa tersebut. Akan tetapi, bangsa Yahudi yang terusir sejak 2000 tahun tidak bernasib sedemikian. Mereka hidup melarat di serata Eropah, Amerika, Afrika dan Timur Tengah. Hertzl inginkan bangsa Yahudi mempunyai negara. Beliau menyusun gagasan ideologi Zionisme selama 16 tahun, iaitu daripada tahun 1882 sehinggalah 1896. Pada tahun 1897, beliau telah menghimpunkan orang-orang Yahudi dari serata dunia dalam Konvensyen Zionis Sedunia Pertama di Switzerland. Dalam konvensyen tersebut, dibincangkan strategi bagaimanakah untuk merebut tanah air Palestina dalam masa 100 tahun. Akan tetapi, mereka berjaya membentuk Israel hanya 51 tahun kemudian pada tahun 1948!

PERKEPIS mengajak hadirin dan hadirat untuk bergabung dalam Pelan Besar  Perjuangan ini. Jadikan PERKEPIS sebagai pangkalan untuk kita merujuk apabila kita berada di lapangan. Pangkalan bermaksud tempat untuk merujuk perancangan-perancangan yang membantu umat ini. Lapangan ialah kepakaran ataupun profesionalisme yang diceburi oleh individu-individu yang bergabung bersama PERKEPIS usai alam mahasiswa kelak. Pelan tersebut merupakan kompas penunjuk arah dan tindakan-tindakan bersama yang dapat dilaksanakan mengikut tahapan-tahapan yang disasarkan. Memetik kata-kata Sayyidina Umar al-Khattab radiallahu ‘anhu, iaitu:
“Di mana sahaja kita berada, kita menjadi penjuru-penjuru kepada Islam”

Ungkapan ini membawa makna bahawa apabila berada di mana-mana ataupun menceburkan diri dalam bidang apa sekalipun, kita menjadi kekuatan kepada umat Islam. Malah pepatah Melayu juga ada menyebutkan;
“Ditikam ke laut, jadilah pulau, ditikam ke darat jadilah gunung”

Matlamat Akhirat dan Dunia
Matlamat gagasan Mencipta Generasi Pemangkin Kecemerlangan Umat berpaksikan kepada dua aspek utama, iaitu:

Matlamat akhirat merupakan wasasan jangka masa panjang yang harus ada dalam setiap Muslim. Inilah wawasan yang membawa kepada kebahagiaan yang hakiki. Mengambil iktibar para sahabat yang begitu gigih menyebarkan agama Allah dan memakmurkan muka bumi dengan keadilan, adalah hasil pendidikan yang telah disemai oleh Nabi Muhammad s.a.w, agar matlamat akhirat sebagai matlamat yang agung, dengan menyedari bahawa hakikat kehidupan manusia di dunia adalah untuk menyembah dan mengabdikan diri kepada Allah. Sebagaimana dinyatakan dalam Surah az-Zariyaat, ayat ke-51:
“Tidak Aku (Allah) jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah kepada-Ku.”

Matlamat dunia dalam konteks ini adalah kita ini sebagai khalifah iaitu wakil Allah s.w.t. yang dipertanggungjawabkan untuk memakmurkan muka bumi menuruti syariat-Nya dan menyebarkan rahmat ke serata alam sebagai menyambung sunnah terbesar baginda Muhammad Rasulullah s.a.w. Allah berfirman dalam Surah al-Baqarah, ayat ke-30:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah (mansia) di muka bumi.”

Disiplin dan Iltizam kepada Perjuangan
Perjuangan ke arah memangkin kecemerlangan umat memerlukan disiplin dan iltizam para pejuangnya. Tanpa keduanya, maka gugurlah mereka yang mengaku berjuang menjadi golongan al-Muthoshoqittun yang disebutkan oleh Ustaz Fathi Yakan dalam bukunya “Golongan Yang Tercicir Sepanjang Jalan Dakwah”. Perjuangan ini bukan hak milik peribadi untuk kita datang dan pergi sesuka hati. Perjuangan ini bukan harta benda kita untuk kita jual dan beli untuk kepentingan diri. Perjuangan ini bukan jawatan pangkat berjela-jela untuk kita tagih puji dan simpati.

Tanpa mereka yang mengaku berjuang pun, Allah s.w.t. punya daya dan upaya dengan sifat-Nya Yang Maha Berkuasa untuk menganugerahkan kecemerlangan kepada umat ini. Namun, adakah kita sanggup melepaskan ruang dan peluang untuk membuktikan diri kepada Allah s.w.t. sebagai pejuang agama-Nya. Surah Ali Imran, ayat ke-19:
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam...”

Perjuangan ini adalah milik umat dan kita generasi pemangkin bangkit dengan insaf dan sedar menjadi pewaris sunnah baginda Muhammad Rasulullah s.a.w. untuk membuktikan diri sebagai pejuang agama di sisi-Nya. Sayyidina Umar al-Khattab radiallahu ‘anhu berpesan;
“Tiada Islam tanpa jemaah, tiada jemaah tanpa kepimpinan, tiada kepimpinan tanpa ketaatan”
 
Hadirin dan hadirat yang dikasihi,

PRA-SYARAT GENERASI PEMANGKIN
Generasi Pemangkin semestinya punya syarat-syarat fundamental yang perlu dipenuhi pertamanya. Pra-syarat ini merupakan asas kepada setiap individu pejuang di kalangan generasi muda  untuk bersiap siaga menemuhi medan perjuangan. Seumpama kita, sebelum diterima masuk untuk melanjutkan pengajian di institusi-institusi pengajian tinggi, maka keputusan SPM atau STPM yang bersesuaian adalah diperlukan sebagai pra-syaratnya.

Begitu jugalah di dalam hal ini, sebelum boleh kita memangkin kecemerlangan umat, maka pra-syaratnya adalah seperti yang berikut untuk kita penuhi;

Spiritualisme (Kekuatan Rohani)
Kekuatan rohani merupakan pra-syarat yang utama yang perlu dipenuhi. Ini kerana, kekuatan rohanilah yang akan memacu kita dalam perjuangan ini. Memetik penjelesana Ustaz Hasrizal Abdul Jamil dalam rancangan motivasi pagi Radio IKIM.FM, beliau membahasakan kekuatan rohani ini sebagai motivasi tulen yang memacu kita untuk terus berjuang. Maka persoalannya sekarang, di manakah sumber motivasi tulen ini?

Di sinilah tampaknya keutamaan dan kepentingan amal ibadah serta selawat. Amal ibadah sebagai zikir kita memperingati Allah s.w.t. pada setiap masa dan selawat sebagai cinta kasih kita kepada baginda Muhammad Rasulullah s.a.w. Seperti yang dianjurkan Al-Quran dalam Surah ar-Ra’d, ayat ke-28;
“...ingatlah, hanya dengan mengigati Allah, hati menjadi tenteram”

Manakala satu-satunya suruhan Allah s.w.t. yang turut dilaksanakan oleh Allah s.w.t. sendiri adalah selawat ke atas baginda Muhammad Rasulullah s.a.w. seperti yang terakam dalam Surah al-Ahzab, ayat ke-56;
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”

Namun, kerana keras dan kotornya hati kita selama ini yang telah kita biarkan membatu dan bernanah, maka bukanlah suatu yang mudah untuk kita menyucikan hati kita melainkan dengan bimbingan daripada mursyid daripada para ‘alim ulama’ dan orang-orang soleh. Kerana itu kita dianjurkan untuk berdampingan dengan mereka sebagai wasilah untuk kita merapatkan diri dengan Allah s.w.t. dan baginda Muhammad Rasulullah s.a.w. kerana mereka itu golongan yang berada dalam rahmat dan redha Allah s.w.t. dan warisan daripada baginda Muhammad Rasulullah s.a.w. Merekalah yang seharusnya jadikan mursyid sebagai penunjuk jalan untuk sampai kepada Allah s.w.t. dan baginda Muhammad Rasulullah s.a.w. Sabda baginda Muhammad Rasulullah s.a.w.;
“Para ulama adalah pewaris para nabi”
(H.R. Imam Abu Daud, Imam Tirmizi, Imam Ibnu Majah, Imam Ibnu Hibban)

Para sahabat, tanpa kekuatan rohani, maka mustahil Islam bertahan sehingga kini. Bayangkan, jika tidak kerana keteguhan Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq menghadapi pemergian kekasihnya Nabi Muhammad s.a.w. adanya lagi cabaran ancaman kaum murtad, yang enggan membayar zakat, nabi palsu dan penjajahan dua kuasa adidaya ketika itu iaitu empayar Rom dan Parsi, maka mungkin tidak akan sampai Islam sehingga hari ini. Begitu juga, generasi Sultan Salahuddin dan Sultan al-Fateh, yang terkenal dengan generasi yang dibimbing hati mereka oleh mursyid mereka daripada golongan ‘alim ulama dan orang-orang soleh, di samping berjuang, amalan-amalan kerohanian bahkan ditingkatkan. Sehinggakan Sultan al-Fateh memastikan tenteranya bangun sepertiga malam dengan diimarahkan dengan solat-solat sunat.

Intelektualisme (Keluasan Ilmu)
Perjuangan menuntut kita untuk punya ilmu yang luas. Namun, harus diteliti apakah yang dimaksudkan dengan ilmu. Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas memperbaiki dan mengenengahkan semula definasi ilmu oleh Fakhruddin al-Razi seperti berikut;
“Merujuk kepada Allah sebagai asal segala ilmu, ia (ilmu) adalah ketibaan makna sesuatu ke dalam diri seseorang. Apabila merujuk kepada diri sebagai pentafsir, ilmu adalah ketibaan diri seseorang kepada makna tentang sesuatu”

Maka itu, untuk memperolehi ilmu maka seseorang itu harus berusaha untuk mendatangkan makna segala sesuatu kepada dirinya dan juga haruslah berusaha untuk mendatangkan dirinya kepada makna segala sesuatu. Justeru, pokok penting bicara ini adalah suapay setiap pejuang yang komited dan konsisten kepada perjuangan memangkin kecemerlangan umat harus berusaha sedaya upaya membudayakan ilmu dalam kehidupan seharian. Prof. Wan Mohd. Nor Wan Daud dalam bukunya “Penjelasan Budaya Ilmu” menyatakan;
“Budaya ilmu bermaksud kewujudan satu keadaan yang setiap lapisan masyarakat melibatkan diri baik secara langsung mahupun tidak langsung dalam kegiatan keilmuan bagi setiap kesempatan”

Justeru sejauh manakh kita pada hari ini membudayakan ilmu dalam kehidupan seharian? Sekiranya kita gagal membudayakan ilmu, maka apakah yang dapat kita perjuangkan untuk diambil iktibar oleh umat? Jangan sampai apa yang dibahasakan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai vicious circle menular dalam masyarakat sehingga tiada upaya lagi untuk diubati.

Dengan keluasan ilmu, maka generasi muda akan dipandang tinggi. Sekalipun Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya “Ihya’ ‘Ulumuddin” telah membahagikan ilmu kepada dua iaitu ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, generasi muda sebagai pemangkin kecemerlangan umat tidak boleh hanya membataskan ilmu kepada ilmu fardhu ‘ain sahaja. Kerana di zaman kontemporer ini, penguasaan ilmu fardhu kifayah merupakan nilai tambah yang akan mengangkat umat ini. Allah s.w.t. membezakan darjat di antara orang yang berilmu dengan orang yang jahil seperti yang terakam dalam Surah az-Zumar, ayat ke-9;
“...Apakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?...”

Idealisme (Ketinggian Pemikiran)
Generasi muda perlu mempersiapkan diri dengan ketinggian pemikiran. Umat diancam dengan serangan yang lebih berbahaya berbanding serangan secara fizikal. Sekiranya umat diserang secara fizikal, sekurang-kurangnya akidahnya masih utuh dan tetap. Namun hari ini, yang lebih berbahaya adalah apabila pemikiran umat diserang dari segenap sudut. Ancaman serangan pemikiran (ghazwatul fikr) ini sudah diutarakan ratusan tahun dahulu oleh pemimpin-pemimpin tentera salib setelah mereka tertewas dalam perang salib dalam menentang tentera Muslimin;
”Muslims should not be approached as people often do, by arms, but by words, not by force, but by reason, not by hatred, but by love.”
(Petrus Venerabilis, pemimpin tentera salib)

“Kita tak akan dapt kalahkan orang Islam selagi mereka rapat dengan kitab ini (al-Quran)”
(King Louis VII, pemimpin tentera salib)

Bukan sahaja pemikiran kita diserang dari luar, malah diserang pula daripada dalam oleh segolongan yang mengaku Islam namun berpegang kepada faham sekularisme, liberalism dan pluralisme. Mereka ini dengan bertopengkan Islam telah menjaja pemikiran sesat dan songsang sehingga telah merosakkan pemikiran umat. Di manakah generasi muda dalam mempertahankan umat?

Ketinggian pemikiran menuntut generasi muda untuk menggunakan keluasan ilmu mereka untuk beranjak ke peringkat seterusnya. Bukan hanya sekadar mempunyai ilmu, tetapi berupaya menggunakan ilmu untuk kecemerlangan umat. Kebijakan dalam menggunakan ilmu adalah suatu kemahiran yang amat didambakan umat untuk mengeluarkan umat daripada belenggu kejahilan yang melantun-lantun dek kerana sifat ananiyah yang menebal.

Generasi muda dengan idealisme diharapkan umat sebagai pagar membentengi rumah daripada serangan musuh. Asyraf Wajdi Dato’ Dusuki dalam ucapan dasarnya sebagai Presiden, Persatuan Kebangsaan Pelajar Islam Malaysia (PKPIM) pada tahun 2001  menjelaskan idealism merujuk kepada yakin dan faham akan prinsip asas perjuangan serta jelas dan bersungguh akan halatuju perjuangan bersandarkan kepada dua perkara pokok iaitu ‘amr ma’ruf dan nahy mungkar, seperti yang digariskan dalam Surah Al Imran, ayat ke-104;
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Aktivisme (Kesungguhan Usaha)
Walau bagaimana kuatnya rohani seseorang dan seluas mana pun ilmunya serta setinggi mana pun pemikirannya, namun jika tidak disertai kesungguhan usaha maka, kecemerlangan umat hanya tinggal angan-angan. Allah s.w.t. berfirman dalam Surah Ali Imran, ayat ke-159;
“...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakkal”

Kesungguhan usaha menuntut generasi muda yang berjuang untuk memangkin kecemerlangan umat hanyut dibuai keasyikan dalam perjuangannya. Dan aktivisme yang digiatkan ini dipandu pula oleh kesegeraan yang sistematik seperti yang diungkapkan oleh John P. Kotter dalam bukunya “A Sense of Urgency”. Sekiranya aktivismenya tidak dipandu oleh suatu perencanaan maka jadilah ia seperti yang diungkap oleh Sayyidina Ali Abu Talib k.w.j.
“Kebenaran yang tidak terancang akan kalah kepada kebatilan yang terancang”

Perlu sentiasa diingat bahawa golongan yang memerangi Islam akan sentiasa mencari kelemahan dan kekurangan umat untuk dihunjam dengan segalam macam serangan yang berencana. Peringatan yang terakam dalam Surah al-Baqaroh, ayat ke-120;
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak sekali-kali akan bersetuju atau suka kepadamu (wahai Muhammad) sehingga engkau menurut agama mereka (yang telah terpesong itu).”

Ahmad Abd Al-Mun'im Al-Badri dalam bukunya “Tanzim Haraki” menggariskan tanzim dalam sesebuah gerakan Islam memerlukan tiga elemen utama iaitu Qiyadah (kepemimpinan), Jundiy (tentera) dan Khittah (perencanaan). Maka itulah, generasi muda sebagai pemangkin kecemerlangan umat harus bergabung tenaga dalam sebuah tanzim menuruti saranan Ustaz Fathi Yakan dalam bukunya “Apa Ertinya Saya Menganut Islam” dan tampil ke barisan hadapan perjuangan untuk kecemerlangan umat dengan khittah (perencanaan) yang sempurna. Mengimani firman Allah s.w.t. dalam Surah as-Saff, ayat ke-4;
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh”

Hadirin dan hadirat yang dihormati,

JARINGAN PEMERSATU UMAT
Usaha untuk kemanfaatan agama masakini bukanlah satu tugas yang mudah. Ditambah lagi, dengan keadaan umat yang dirundung nestapa, ditimpa kemunduran di hampir setiap aspek kehidupan. PERKEPIS tidak dapat bergerak dengan sendirian. Untuk memangkin kecemerlangan umat memerlukan kerjasama yang erat dengan sahabat-sahabat perjuangan meski berbeza firqah.

PERKEPIS harus melebarkan interaksi ukhuwah alamiyah (menyeluruh) yang merentas firqah. Hakikatnya ada satu jemaah, iaitu jemaah umat Islam. Firqah ini merujuk gerakan-gerakan Islam ini yang bersatu pada matlamat akan tetapi mempunyai kaedah pembawaan dan pendekatan yang tersendiri. Masing-masing firqah mempunyai kekuatan yang tersendiri, dan mungkin juga ada kelemahannya. Kita tidak mahu adanya perasaan rasa siapa yang lebih baik, prejudis, cakap belakang-belakang atau seumpamanya kerana ini akan menghilangkan keberkahan perjuangan.
Namun demikian, kekuatan-kekuatan ini tidak seharusnya menjadi kekuatan-kekuatan yang terpecah-pecah. Meskipun PERKEPIS agak lama terlibat dalam arena dakwah, namun PERKEPIS sendirian tidak mampu untuk menghadapi dan membantu masalah-masalah umat. PERKEPIS menyeru agar kita mengekalkan ukhuwah rentas firqah ini berasaskan matlamat menjaga, mempertahankan dan keteguhan umat. Firqah ini menjadi jaringan pemersatu dan juga sahabat dalam memberikan komitmen dengan lapangan yang berbeza, akan tetapi kebersamaan dalam misinya. Jaringan ukhuwah alamiyah yang mantap membolehkan rencana bersama dapat dilaksanakan.

Kita mengimbau keberhasilan ukhuwah rentas firqah ini dalam sejarah. Sultan Abdul Hamid II (1842-1918), khalifah Daulah Uthmaniyyah berwibawa terakhir merupakan contoh kontemporer yang terbaik. Menurut sebuah kajian tesis Ph.D oleh Dr. Eeman Mohamed Abbas dalam bukunya “Sultan Abdul Hamid II dan Kejatuhan Khilafah Islamiah: Peranan Gerakan Nasionalis dan Minoriti”, nyata bahawa jaringan pemersatu ini telah membuahkan hasil yang mengagumkan.

Paduka Sultan Abdul Hamid II telah memanfaatkan segala sumber yang ada dalam umat Islam di kalangan ulama, ahli fikir, pemimpin-pemimpin, ahli sufi dalam merealisasikan rancangan Kesatuan Islam baginda. Hasilnya, baginda telah menyatukan umat yang berpecah-pecah dan mendapat sokongan padu dari segala ceruk dunia Islam. Sehinggakan, Barat dengan sedaya upaya menjadikan baginda sebagai sasaran nombor satu untuk dijatuhkan, lantaran karismanya. Ini jelas sekali, apabila cendiakawan Barat mengatakan bahawa seandainya pengganti-pengganti sultan Uthmaniyyah selepas ini mempunyai kualiti seperti baginda, maka umat Islam ini akan bangkit semula seperti masa dahulu.

Umat Islam terdahulu berjaya dikuasai musuh kerana perpecahan merekah secara total telah hancur musnah. Lihat sahaja dalam tahun 1948, apabila negara haram Israel diisytiharkan, bangsa-bangsa Arab yang sudah berpecah di kepada negara kecil Mesir, Jordan, Syria, Lubnan dan Iraq telah bertindak balas menyerang bangsa Israel. Walaupun tentera Arab mempunyai jumlah tentera yang ramai, terlatih dan adanya senjata yang lebih baik, namun akhirnya diusir oleh tentera Israel. Begitu juga nasib perjuangan mereka yang berpecah-pecah mengakibatkan kekalahan demi kekalahan pada tahun 1956, 1967 dan 1973.

Aspek yang utama dalam jaringan pemersatu ini ialah dengan bersikap non-partisan. Sikap non-partisan bermaksud berpegang kepada kebenaran tanpa dipengaruhi oleh semangat ataupun sentimen mana-mana pihak. Sikap non-partisanmenghindarkan diri daripada menutup akal dan jiwa kita boleh menyuburkan sikap fanatisme.

Jaringan pemersatu ini perlu diambil dengan serius. Kerana kita sudah terlalu lama di dalam lingkungan kebiasaan kita. Berusaha bersendirian akan mengakibatkan keletihan dan putus asa. Dengan adanya rangkaian sahabat-sahabat, maka beban-beban ini digalas bersama.

Hadirin dan hadirat yang dikasihi,

WANITA BUKAN SEKADAR PENUMPANG
PERKEPIS ingin memperkemas barisan dengan mengambil berat akan peranan wanita. Peranan wanita terutamanya dalam Islam tidak dapat dinafikan sama sekali. Wanita adalah sayap kiri pemimpin di kalangan kaum lelaki, mereka menjadi pembantu dan penguat kepada perubahan yang positif.

Peranan Saidatina Khadijah al-Kubro dalam sejarah perjuangan memartabatkan Islam menjadi contoh abadi. Betapa beliau seorang wanita, turut memikirkan dan terlibat dengan jiwa sebagai pejuang. Beliau mendampingi baginda Rasulullah s.a.w ketika dakwah baginda gencar diperangi. Beliau  juga sebagai ibu, aktif dalam perniagaan. Beliau antara tulang belakang yang mengekalkan survival umat Islam ketika mereka dipulaukan bersama Bani Hasyim ketika boikot 3 tahun oleh Musyrikin Quraisy.

Wanita dalam gerakan Islam perlu mengambil iktibar yang ditonjolkan oleh Saidatina Khadijah. Jadikanlah diri sebaga sayap kiri yang berjuang seiringan dan bukan sekadar penumpang yang menunggu sampai ke destinasi perjuangan dengan celotehan hak diri yang tidak akan sudah.

Jadikan diri sebagai pejuang, berhenti berfikir tentang diri sendiri. Akan tetapi renungkan betapa andainya jika kita tidak berperanan, apakah yang akan jadinya kepada masyarakat? Adakah kita punya jawapan kepada aliran-aliran warisan golongan sufastaiyyah yang mencaca-merba fikiran masyarakat? Kita tidak mahu kekeliruan yang membungkam masyarakat terus dibiarkan dan semakin dikellirukan. Golongan tersebut yang mempermudah hal-hal yang teguh dalam agama agar dirungkaikan, dengan alasan untuk membebaskan wanita daripada kekolotan. Akan tetapi sebenarnya ingin membebaskan wanita daripada norma-norma baik yang ditentukan oleh agama.

Hadirin dan hadirat yang dihormati,

RAKAN PEMBANGUNAN NEGARA DAN AGAMA
Dalam perjuangan untuk memangkin kecemerlangan umat generasi muda diseru untuk tidak meminggirkan diri daripada arus perdana. Sebaliknya, menjadi sebahagian daripada meraka yang turut serta dalam pembangunan negara dan agama secara langsung mahupun tidak langsung. Mengambil semangat motto PERKEPIS “Berjasa Kepada Masyarat” selari dengan sabda baginda Muhammad Rasulullah s.a.w.;
“Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat untuk manusia lain”
(H.R. Qudha’i)

Kita mengambil iktibar daripada umat terdahulu yang cemerlang terbilang. Generasi muda diberikan tempat yang istimewa dalam Islam, seperti yang dirakam dalam al-Quran. Antaranya adalah termaktub dalam Surah Kahfi, ayat ke-13:
“Kami ceritakan kepadamu (wahai Nabi Muhammad s.a.w) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami (Allah) tambahkan petunjuk kepada mereka.”

Para anbiya dan orang-orang muda yang berjaya pada umat dahulu adalah pencinta kebenaran, penjunjung gemala ilmu pengetahuan, bersemangat waja dan sanggup membawa beban tanggungjawab amanah agama. Terlalu banyak contoh yang termaktub bahawa perubahan adalah dicetuskan oleh orang-orang muda.

Generasi muda tidak seharusnya mengambil sikap tidak endah terhadap isu-isu semasa yang melanda umat ini. Sikap meletakkan diri dalam ketidakpedulian terhadap isu umat dan sentiasa berada dalam zon selesa adalah sikap yang membunuh diri. Merasakan umur masih muda, umur panjang lagi, masa untuk bersuka ria natijahnya kelak akan hanya menitis air mata andai kata ada perubahan semasa yang menyulitkannya suatu hari kelak. Sudah terhantuk baharu nak terngadah. Menyesal tiaganguna apakala nasi sudah menjadi bubur. Sebaliknya, sikap kepedulian dan ikut serta dalam mencipta umat yang cemerlang ini seharusnya menjadi sebahagian daripada diri. Baginda Muhammad Rasulullah s.a.w. bersabda daripada Anas r.a.,
"Barangsiapa yang tidak memerhatikan (memikirkan) masalah kaum Muslimin, maka dia bukan dari golongan mereka"
(H.R. Baihaqi)

Seorang cendiakawan Islam terdahulu, iaitu Amir Shakib Arslan dalam bukunya “Our Decline: Its Causes and Remedies” beliau menegur umat Islam yang berpeluk tubuh dan tidak mahu terlibat dan berkorban untuk umat. Beliau menyatakan bahawa anak-anak muda bangsa Eropah menyanggupi untuk berperang demi negara mereka. Beliau memberikan perbandingan dengan bangsa-bangsa lain pada zaman 1920-an tersebut yang mencurahkan segala harta dan kekuatan untuk memperteguh bangsa masing-masing. Analogi ini mungkin  tepat dan masih relevan dengan keadaan kita sekarang. Di manakah kita orang muda? bukankah itu menunjukkan keadaan masih sama seperti lebih kurang seratus tahun lampau? Kita renungkan.
Hadirin dan hadirat yang dikasihi,

Penutup
Marilah kita bersama-sama berganding bahu, bermula dari sekarang. Penyakit umat yang menjalar sehingga ke pembuluh darah masyarakat perlu dibedah dan diubati, agar ia tidak mati. Ingatlah, bahawa masa hidup di dunia ini bukanlah igauan permainan yang indah semata-mata, akan tetapi ia harus diisi dengan sepenuhnya. Sesungguhnya, Islam menantikan kebangkitan kita semua. Marilah kita terlibatlah dalam Generasi Pemangkin yang Mencipta Kecemerlangan Umat. Jangan kita menyesal seumpama seorang sahabat Nabi s.a.w yang menangguhkan janjinya untuk bersama baginda ketika dakwahnya sebelum Hijrah. Hanya pada ketika kemasukan ribuan tentera Islam ketika peristiwa Fathul Makkah pada 8 Hijrah barulah ia menyesal mengapalah tidak mendampingi Rasulullah s.a.w sejak awal-awal dahulu. Akhir kata, renungkanlah rangkap-rangkap pantun ini, yang dinukilkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam “Risalah Untuk Kaum Muslimin” beliau:
Sifat sejarah, menurut orang,
Ibarat pentas bermain wayang,
Cerita lampau dihurai dalang,
‘Pabila tamat segera diulang.
Jika demikian mustahil pantang,
Giliran Islam pula mendatang,
Lakonan lama indah gemilang,
Di layar dunia semula terbentang.
Allahu Akbar! Allahu Akbar!Allahu Akbar! Walillahil Hamd..
.